Jurnal

Tiga buku Mahbub Djunaidi

Mahbub Djunaidi, Tiga buku Mahbub Djunaidi Posted On
Posted By Ahmad Makki

Kata orang mati muda adalah nasib baik, apalagi kalau tidak pernah dilahirkan. Karena itu hidup berumur panjang adalah nasib buruk, mengalami segala duka dan hal-hal jelek di dunia.

Kalau saya boleh menambahkan, yang paling apes adalah hidup lama dan bertahun-tahun berteman dengan sebangsa predator buku, pengoleksi buku kelas akut. Abi S Nugroho, Abdullah Zuma dan Al Hafiz Kurniawan, adalah tiga contoh sempurna predator buku. Saya yang kebagian jatah nasib malang menjadi teman mereka bertahun-tahun.

Abi adalah predator yang koleksi bukunya bisa bikin minder kepala perpustakaan fakultas di berbagai universitas di Indonesia. Sebuah legenda menceritakan mobil bak terbuka yang tertatih-tatih mengangkut sebagian koleksinya. Mengutip pernyataan, lengkap dengan nomor halaman, cetakan dan tahunnya, semata perkara biasa buatnya. Soal buku, ia mewarisi watak keras dari tokoh idolanya, Tan Malaka. Cobalah sesekali melipat halaman buku di hadapannya, anda akan diceramahi panjang lebar perkara memuliakan buku.

Zuma adalah penggarong buku kelas pilihan, juga penemu istilah “predator buku”. Ia bisa melucuti koleksi buku diam-diam dan membuatmu baru sadar ketika segalanya sudah kapiran. Sejalan dengan kemampuannya menggarong, ia mahir dalam menyembunyikan koleksinya dari radar semua orang. Yang paling mengagumkan dari Zuma adalah tekadnya mendakwahkan buku-buku yang ia sukai kepada teman-temannya yang belum sempat membaca. Ia akan menguntit orang dan membisikkan segala rayuan celaka, sampai yang dikuntit mau membaca buku yang dimaksud.

Hafiz yang paling misterius, karenanya ia sangat menakutkan. Tidak ada yang tahu persis taksiran koleksi bukunya. Hanya setiap orang membutuhkan sembarang buku, ia seringkali bisa meminjamkan. Hafiz berakhlak mulus luar dalam dan diketahui tidak pernah menerobos lampu merah, meski tak sesosok setan pun berkeliaran di jalanan. Tapi dalam perkara buku ia masuk wilayah abu-abu. Karena misterius, secara teoretis buku siapa saja bisa terselip dalam tumpukan koleksinya. Kita hanya tidak tahu.

Baca  Sebuah malam Bersama Gerry

Berteman dengan ketiga predator buku di atas, menjadikan hidup sepenuhnya perkara harga diri. Belum membaca buku yang mereka sukai adalah alamat celaka. Setiap pertemuan rasanya seperti kepergok malaikat maut. Membaca buku bagus saja belum selesai tanpa mengoleksinya. Mampu mencuplik verbatim satu atau dua kalimat sonder menunjukkan bentuk fisik buku adalah aib belaka. Jatah umur saya cukup banyak dihabiskan mendengar ocehan dan menyimak perseteruan ketiganya.

Banyak hal yang menyatukan mereka, ambil saja sosok kolumnis Mahbub Djunaidi sebagai contoh. Ketiganya pernah menelusuri berbagai dokumen terkait almarhum Mahbub, menjelma menjadi pakar yang menghafal karya dan kehidupan kolumnis jenaka itu, tanpa sanggup mengoleksi buku-bukunya karena pernah sangat langka.

Pernah ketiganya hampir menyerah setelah bertahun-tahun mencari buku-buku Mahbub dengan hasil hampir nihil. Satu eksemplar buku bekas yang berhasil ditemukan menjadi sumber sengketa. Pada akhirnya mereka terpaksa menempuh jalan kompromi dan menurunkan harga diri, dengan memfoto kopi satu-satunya buku yang tersedia. Mereka menyimpannya sambil mengumpat nasib buruk, mesti mengeloni “barang haram”.

Mengingat semua itu, saya jadi membayangkan bagaimana bentuk wajah ketiganya ketika tahu foto ketiga buku cetakan lama yang saya unggah ini. Dua buku karya Mahbub dan satu buku yang diterjemahkan Mahbub. Besar kemungkinan ketiganya belum pernah melihat wujud karya terjemahan tersebut.

Sebagai pengganti taburan garam di atas luka, saya ingin tambahkan; saya dapatkan ketiganya bersamaan, dalam sekali tarikan nafas.

Related Post

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.