FilmResensi

The Assassination of Jesse James by the Coward Robert Ford

Jesse James, The Assassination of Jesse James by the Coward Robert Ford Posted On
Posted By Ahmad Makki

Amerika cukup akrab dengan tokoh-tokoh semacam Robin Hood; perampok yang populer dan disukai masyarakat. Dari kancah film kita mengetahui sosok-sosok “penjahat yang disukai” seperti John Dilinger yang paling tidak telah dua kali difilmkan dengan judul Dilinger pada era 70-an (saya lupa tepatnya), dan Public Enemy (2009) yang diramaikan Johnny Depp dan Christian Bale. Selain Dilinger, masih ada nama lain yang tidak kalah “harum”, yakni Jesse James. Setahu saya sudah ada tiga biopik mengenai tokoh ini, yakni Jesse James tahun 1927 dan di-remade tahun 1939, serta film garapan Andrew Dominik ini, The Assassination of Jesse James by the Coward Robert Ford.

Film ini menceritakan periode terakhir kehidupan Jesse James (Brad Pitt), terfokus pada dua gagasan; kedigjayaan Jesse James, serta pemujaan Robert “Bob” Ford (Casey Affleck) terhadap sosok Jesse James. Sejak awal film ini menunjukkan betapa inginnya Bob masuk ke dalam gerombolan perampok dengan pimpinan Jesse James, yang digambarkan sebagai sosok misterius tak terduga, dengan intuisi luar biasa (entah bagaimana, ia selalu tahu kapan ia akan diburu, serta siapa anggota kelompoknya yang berlaku curang).

Di sini kisah hidup Jesse James dipresentasikan dengan cara muram. Penggunaan warna sepia yang dominan menegaskan hal tersebut. Ketegangan demi ketegangan dibangun dengan cerdik, bukan melalui todongan atau adu senjata, namun melalui dialog serta perilaku Jesse James yang tak terduga. Dialog-dialog yang dibangun betul-betul menunjukkan superioritas Jesse James. Penonton seolah-olah senantiasa diminta bersiap, sebab ia bisa mencabut pistolnya kapan saja.

Pada satu adegan, misalnya, ia bercerita kepada Charley (Sam Rockwell), kakak dari Bob, tentang pembunuhan yang dilakukannya terhadap seorang famili dekat Charley. Charley yang juga terlibat dalam terbunuhnya seorang famili Jesse mendadak tercekat dan gugup ketika Jesse mengatakan; “apakah kau mau bertukar cerita denganku?” dengan raut muka yang yakin dan senyum ambigu.

Baca  “No Country for Old Men”: Puisi Buram untuk Hari Tua

Di adegan lain, dalam gelapnya tengah malam Bob sedang menenangkan Charley yang menangis ketakutan membayangkan bagaimana nasib mereka berdua di tangan Jesse James. Ketika Bob pergi dan Charley agak tenang, mendadak dari kegelapan seseorang berucap “tidurlah, Charley”.

Fase akhir film yang terfokus pada Jesse James, Charley dan Bob, benar-benar menggelisahkan. Bersama penonton, Bob dan Charley yang bersekongkol dengan polisi untuk membunuh Jesse James akan dibuat seperti cacing kepanasan. Apapun yang mereka rencanakan Jesse James seolah tahu. Ketenangan Jesse James membuat cerita kian tak pasti ujungnya. Menurut saya karakter seperti inilah yang menjadi daya tarik utama film ini. Ketimbang menggambarkan Jesse laiknya koboy tanpa tanding, penonton justru diajak menyimpulkan bahwa kedigjayaan seorang pendekar sekelas Jesse James dibangun melalui karakternya yang kuat, dengan atau tanpa senjata.

Menurut saya film ini bisa dikatakan sebagai salah satu penampilan terbaik Brad Pitt. Ia berhasil membangun sosok tenang dan meyakinkan sekaligus mengintimidasi dan mematikan, meski jarang mencabut senjata. Saya cukup heran mengetahui ia bahkan tak dipertimbangkan sebagai nominasi Oscar untuk penampilan cemerlangnya ini. Penampilan Casey Affleck pun tak mengecewakan. Saya yakin, Ben Affleck, saudaranya yang lebih tenar, akan iri melihat penampilannya.

Andrew Dominik berhasil mengisahkan perkembangan karakter Bob yang tadinya begitu mengidolakan Jesse, namun akhirnya bersedia dibayar untuk membunuh idolanya, melalui peristiwa demi peristiwa yang membuatnya disudutkan oleh dua pilihan sulit; dibunuh, atau membunuh Jesse James. Ambiguitas ambisi Bob untuk menyamai, bahkan melampaui kehebatan Jesse, juga memberi andil dalam proses ini.

Pada akhirnya, Bob dan Charley bersaudara memang sukses membunuh Jesse, namun Andrew Dominik berhasil menyugesti penonton bahwa reputasi dan superioritas Jesse tak terusik sedikit pun. Beberapa detik menjelang kematiannya Jesse dengan sukarela melepas senjatanya dengan ekspresi seolah dia tahu itulah saat yang tepat baginya untuk mati. Nasib dan opini masyarakat kepada Bob dan Charlie pasca kematian Jesse justru kian menegaskan kehebatan mantan komandan mereka.

Related Post

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.