Sepakbola

Setelah Final Euro 2016: Perancis vs Portugal

Euro 2016, Setelah Final Euro 2016: Perancis vs Portugal Posted On
Posted By Ahmad Makki

“Rubah banyak akal, tapi landak memahami satu hal besar,” kata Archilochus. Hal besar yang dimaksud penyair Yunani klasik itu adalah kemampuan menghalau musuh dengan bersenjatakan duri di sekujur tubuh.

Filosof Eropa Isaiah Berlin mengutip syair ini dengan perspektif berlawanan. Ia membagi dua tipe pemikir, jenis landak di satu pihak dan jenis rubah di pihak lainnya.

Pemikir jenis landak punya satu teori besar yang melandasi seluruh pemikirannya dan dipakai untuk menjawab semua pertanyaan. Plato dan Hegel adalah contoh pemikir berjenis landak.

Sementara pemikir berjenis rubah adalah mereka yang meyakini bahwa persoalan filsafat begitu kompleks hingga mustahil memakai satu rumus untuk menjawab semua pertanyaan. Aristoteles dan Goethe adalah di antara pemikir berjenis ini.

Berlin memuji para pemikir bertipe rubah yang memahami bahwa mustahil ada satu rumus besar yang bisa menerangkan segala hal dan menjawab semua pertanyaan.

Dalam sepakbola, laga final Piala Eropa 2016 antara Perancis vs Portugal yang berakhir 0-1 untuk Portugal semalam, juga bisa dilihat sebagai laga antar “landak” dengan “rubah”.

Perancis adalah tim landak. Mereka memahami satu hal besar yang dipuja-puja banyak orang, menyerang. Tercatat sebagai tim paling produktif di Piala Eropa kali ini, mereka memilik materi ofensif yang jauh lebih mengerikan dari Portugal.

Portugal memang punya satu dari dua pemain terbaik di dunia saat ini, Cristiano Ronaldo, tapi tak memiliki satu pun keistimewaan sebagai tim. Pertahanan mereka kadang mengkhawatirkan, daya serang mereka tak pernah betul-betul meyakinkan.

Tapi mereka cerdik dan banyak siasat seperti rubah. Mereka menyadari bahwa tak ada taktik sempurna yang bisa bekerja di semua situasi. Strategi mereka berganti-ganti merespons karakter tim yang dihadapi. Melawan Perancis semalam, mereka sukses membuat gelandang Perancis kehabisan cara untuk mendapatkan bola, lalu sesekali mengancam secara konsisten.

Baca  Tito

Banyak orang mengumpat dan menganggap Portugal tak layak jadi kampiun. Sepakbola mestinya menghibur dan penuh letupan aksi jual-beli serangan, jauh dari laga final semalam. Tapi orang melupakan fakta bahwa Portugal bukan tim pertama yang memberikan tontonan membosankan di final. Bahkan tim sehebat Jerman, Argentina, Brazil dan Italia, tak merasa jengah pernah bermain monoton di laga final. Sementara orang-orang tetap setia mendukung mereka

Skor dan serangan yang kelihatan mencolok adalah akumulasi proses-proses kecil yang dimulai dari 5, atau 10, atau bahkan mungkin 20 sentuhan sebelumnya yang jarang diperhatikan mayoritas orang. Dalam hal itu Portugal memang lebih telaten dan cerdik ketimbang Perancis.

Sepakbola menyerang yang indah tak bisa dibangun dengan cara merengek saban dikalahkan tim yang bermain lebih jelek.

Related Post

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.