HumorJurnal

Sebuah malam Bersama Gerry

Posted On
Posted By Ahmad Makki

“Ini over ekstraksi,” kata Gerry Faisal setelah mencicip kopi bikinan saya. Saya cuma melongo. Gerry adalah kawan yang saya kenal dari sebuah komunitas hobi. Malam ini i

Gerry menjelaskan beberapa hal soal menyeduh kopi secara singkat, saya tak paham sedikit pun. Ia mengambil alih termos, gelas dan segala peralatan menyeduh kopi, menyelamatkan mereka dari perlakuan saya yang sewenang-wenang.

Sejak 2001, seorang teman mengenalkan saya pada kopi beneran (lawannya kopi sachet-an) dan sejak itu selera saya tak bisa kembali. Tapi sejauh itu yang saya tahu cuma kopi enak sama enggak enak aja. Soal seluk-beluk rasa sampai perihal menyeduh, saya awam.

Beberapa bulan lalu Gerry masih misuh-misuh kalau saya ajak mencicipi kopi beneran, apalagi kalau saya larang pake gula. Setelah beberapa minggu baru dia bisa merasakan betapa penuh dustanya kopi yang dicampur gula. Selepas itu dua bulan atau tiga terlewat dan tahu-tahu dia menerangkan soal biji kopi yang over ekstraksi. Saya hampir saja jatuh duduk lantaran takjub.

Diam-diam saya mengecek leher Gerry, apa ada bekas gigitan drakula atau semacamnya. Di dalam hati saya baca Ayat Kursi beberapa kali, khawatir di hadapan saya sebenarnya setan yang sedang menyamar jadi Wiranto, eh Gerry. Sebab bagaimana rumusnya hanya dalam waktu singkat tahu-tahu dia paham seluk-beluk menyeduh kopi dengan cara-cara modern?

Tapi begitu melihat gaya sisirannya saya yakin. Sebab iblis mana pun akan kelenger kalau disuruh mencontek cara Gerry menyisir yang begitu rapi.

Dengan terampil tangan Gerry memainkan peralatan yang seadanya. Sebentar-sebentar gelas dia tutup sambil melirik jam di hapenya, sebentar-sebentar dia perhatikan kopi di dalam gelas. Tahu-tahu jadi segelas kopi. Saya mencicipi dengan khidmat dan mendadak berdebar-debar, sebab rasanya enak sekali, seperti kali pertama jatuh cinta.

Baca  Sejarah Kopi

“Warbyasa!” kata saya. Gerry hanya diam merenungi gelas kopi lain yang tengah disiasati.

Selesai menyeduh lagi Gerry baru buka mulut. Nada bicaranya riang dan ringan. Ia bicara banyak tapi saya sering tak menyimak, sebab perhatian saya banyak dijajah rasa kopi buatan Gerry.

Selagi asyik mengisap tembakau dalam pipa saya dengar Gerry mulai cerita kalau ia buka kedai kopi. Saat topiknya kembali ke soal teknik menyeduh kopi, saya coba-coba mengikuti instruksinya tapi gagal dan merasa goblok sekali. Saya buka mulut hendak mengeluh, tapi enggak tahu bagaimana yang terucap malah hal lain.

“Selain pelanggan dan saudara, apa sudah ada perempuan yang pernah elu bikinin kopi, Ger?” Saya hampir menutup mulut dengan telapak tangan karena merasa keceplosan.

Gerry mendadak diam seribu bahasa lalu membuang muka. Entah sengaja atau enggak, sikunya menyenggol gelas kopi dengan keras. Malam tahu-tahu terasa sudah larut sekali. Angin diam-diam meniup dedaunan.

Related Post

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.