Tokoh

Quraish Shihab di mata saya

Quraish Shihab, Quraish Shihab di mata saya Posted On
Posted By Ahmad Makki

Saya ingin ikut teman saya Dr. Makyun Subuki, bersaksi soal Prof. Dr. Quraish Shihab. Keinginan ini muncul setelah membaca berbagai fitnah yang belakangan menimpa pakar tafsir tersebut. Meski begitu, kesaksian ini bukan jawaban atas segala fitnah. Buat saya hal-hal seperti itu tidak perlu dijawab.

Soal cerita keramahan dan kerendahan hati Pak Quraish Shihab kepada para mahasiswa, seperti diceritakan Dr. Makyun, saya memang sering dengar. Cuma saya masuk IAIN/UIN Jakarta ketika beliau sudah tidak lagi aktif di sana. Jadi enggak melihat langsung. Maklum, angkatan saya memang jauh jaraknya dengan angkatan Dr. Makyun. Pantesnya saya panggil Dr. Makyun sebagai “oom”. Hahaha.

Yang sempat saya lihat langsung ketika Pak Quraish mendirikan Pusat Studi Quran Lentera Hati di Ciputat. Dulu hampir setiap hari saya lewat tempat itu dan kadang ikut nongkrong dengan para pegawainya. Pak Quraish memang ramah dan rajin senyum kepada orang di sekitar.

Pengalaman paling berkesan adalah ketika saya mentranskrip dan menyunting kumpulan ceramah Pak Quraish di Masjid Sunda Kelapa, untuk diterbitkan. Waktu itu dekade 2000-an. Yang paling saya ingat, ceramahnya sistematis dan jelas. Tidak ada suntingan berarti yang bisa dilakukan ketika dipindahkan menjadi tulisan. Semua yang ia ucapkan sudah lebih dulu selesai di pikirannya.

Dari ceramah-ceramahnya saya malah mendapat kesan Pak Quraish Shihab lebih konservatif ketimbang reputasinya yang beredar di kalangan umum. Misalnya ketika ditanya hukum muslim menjual pernak-pernik untuk agama lain, ia bilang tidak boleh. Pendapat-pendapatnya tidak ada yang aneh, seperti umumnya ajaran Islam di pesantren-pesantren tradisional. Cuma memang tergambar keluasan pengetahuannya ketika dia membandingkan berbagai pendapat ulama.

Soal beberapa poin perbedaan pendapat dengan ulama lain, memangnya sejak kapan para ulama pemikir kerjanya cuma copy-paste dari ulama sebelumnya? Dan sejak kapan ada ulama tersinggung melihat ulama lain berbeda pendapatnya?

Related Post

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.