EsaiTokoh

Mengingat ulang Gus Dur

Gus Dur, Mengingat ulang Gus Dur Posted On
Posted By Ahmad Makki

“Perbuatan apa yang telah dilakukan seorang anak manusia hingga begitu banyak orang mencintainya dan kehilangan,” batin Gus Dur saat ayahnya, K.H Wahid Hasyim wafat, dan melihat begitu banyak orang berbaris di rute yang dilalui mobil pembawa jenazah sejak Jakarta sampai Bandung. Renungan ini diceritakan dalam biografinya yang ditulis oleh Prof. Greg Barton.

Gus Dur menyaksikan sendiri ayahnya wafat dalam satu kecelakaan maut di daerah Puncak, Bogor. Saat itu ia masih berusia belasan tahun dan bersama ayahnya berada di dalam mobil yang terguling. Ia sendir selamat tanpa kurang apa pun. Selama dua jam menunggu ambulans datang, dengan ketenangan menakjubkan ia menemani ayahnya mengembuskan nafas terakhir karena terlalu banyak kehilangan darah.

Cucu salah satu pendiri Nahdlatul Ulama (NU) ini mengaku sebelum berangkat ia melihat ayahnya membawa duit dalam jumlah banyak yang disembunyikan di dalam bantal. Ia meyakini duit itu pasti akan dipakai untuk kepentingan banyak orang. Maka selama berjam-jam ia terus memeluk bantal tersebut, dan baru mau melepaskan ketika bertemu ibunya.

Sejak hari itu, sepanjang hayat bapak empat ini seperti upaya untuk mengikuti jejak keteladanan hidup ayahnya. Ia melakukan banyak hal besar dan mencari jawaban atas pertanyaannya sendiri, perbuatan anak manusia yang membuat begitu banyak orang jatuh cinta.

Sejak lulus kuliah dan pulang ke Indonesia, Gus Dur mulai terlibat dalam persoalan-persoalan besar masyarakat di sekitarnya. Dalam pengertian yang besar, ia menjadi guru begitu banyak orang. Ia banyak membidani kelahiran anak-anak muda berpikiran cemerlang yang ikut mewarnai kehidupan sosial di Indonesia.

Dalam pengertian sesungguhnya pun Presiden RI ke-4 ini sebetulnya guru yang baik. Ketika masih tinggal di Jombang, di pesantren Tebuireng ia sempat punya pengajian yang membahas salah satu kitab kuning penting. Pengajiannya selalu ramai dan diminati banyak orang, bahkan banyak yang datang dari daerah lain.

Tapi kepentingan yang lebih besar menariknya ke Jakarta. Ia bergelut aktif di lembaga LP3ES dan NU, menghabiskan hidupnya dengan mengabdi pada masyarakat.

Seperti saat di Jombang, pengajian Gus Dur selalu menarik. Di Jakarta jamaahnya lebih banyak lagi, terutama dari kalangan muda. Ia banyak membahas pemikir muslim modern. Banyak cerita di mana anak-anak muda yang hadir mencatat berbagai nama yang dikutip Gus Dur, karena banyak yang baru mereka dengar. Setelah itu mereka akan pontang-panting mencari buku-bukunya. Dari kebiasaan inilah nama para pemikir muslim modern mulai dikenal di Indonesia. Nama-nama itu si antaranya Muhammed Arkoun, Hasan Hanafi, Nashr Hamid Abu Zayd, Muhammad Abid Al Jabiri dan lainnya.

Dalam hal kepentingan umat, tak satu hal pun yang sanggup menunda Gus Dur, bahkan keluarga. Salah satu anak Gus Dur pernah bercerita pada saya bahwa seumur hidup mereka tak pernah merasakan yang namanya liburan keluarga secara layak. Gus Dur selalu kelewat sibuk buat bersantai bersama.

Baca  Penerimaan ulama dan umat Islam atas NKRI

Satu kali mereka pernah punya kesempatan melakukan liburan sekeluarga, menginap di sebuah daerah wisata. Sampai di sana siang hari, bersantai sampai sore, ketika para pedagang makanan dari daerah sekitar berkeliling menjajakan dagangan.

Seorang pedagang mengenali Gus Dur dan dengan tergopoh-gopoh mencium tangannya. Setelah berbasa-basi si pedagang mengaku besoknya punya hajatan di rumahnya yang tak jauh dari situ. Ia mengundang Gus Dur dan langsung disanggupi.

Jadilah keesokan harinya acara liburan keluarga itu harus mengalah dengan hajatan orang yang sebetulnya belum pernah dikenal Gus Dur. Anak-anak Gus Dur kesal sekali. Mereka bersungut-sungut sampai di rumah.

Ketika mereka berkumpul dan menyatakan keluhan, Gus Dur dengan tegas mengatakan bahwa tak ada satu hal pun yang boleh menghalanginya dari kepentingan umat, sedang keluarga bisa bertemu setiap hari. Sementara orang yang mengundangnya senang sekali ketemu Gus Dur, dan lebih senang lagi ketika Gus Dur mau datang ke acaranya. Mungkin itulah satu-satunya kesempatan baginya buat ketemu Gus Dur.

Sejak itu anak-anaknya mengerti bahwa menjadi anaknya Gus Dur berarti harus siap berkorban untuk kepentingan orang banyak.

Keterlibatan Gus Dur pada banyak urusan sosial juga tercermin pada banyak julukan “Bapak” yang dipersembahkan kepadanya dari berbagai kelompok, sebagai penghormatan atas pengorbanannya. Di antara sebutan itu adalah Bapak Demokrasi Indonesia, Bapak HAM Indonesia, Bapak Nelayan, Bapak Petani, Bapak TKI dan lainnya.

Setelah Gus Dur wafat, seniman Sudjiwo Tedjo menulis di harian Kompas, mengkritik orang yang hanya mengingat jasa-jasa yang sifatnya “serius”, padahal Gus Dur juga punya jasa pada dunia humor dan gelak tawa. Karenanya Tedjo mengusulkan satu gelar lagi buat Gus Dur, Bapak Ceplas-ceplos Nasional.

Sewaktu Gus Dur masih hidup, rumahnya di Ciganjur tak pernah sepi dari pagi sampai malam. Bahkan kadang sampai pagi lagi. Para tamu datang dengan berbagai kepentingan. Mulai minta duit, minta doa, minta nama anak, minta wawancara, sampai minta humor baru.

Soal para tamunya ini pria yang mahir melucu ini pernah berkelakar. Mereka yang datang ke rumahnya di sekitar jam 7 pagi sampai jam 9 malam untuk membicarakan NU itu orang yang komitmen atau fanatik pada NU. Kalau datang di sekitar jam 9 malam sampai jam 12 malam, itu orang gila NU. Nah, kalau datangnya lewat dari jam 12 malam, itu NU gila.

Gus Dur sendiri tak pernah mengeluh rumahnya “diinvasi” banyak orang tiap hari. Pada dasarnya dia memang hobi silaturahmi dan mengobrol.

Baca  Gus Dur dan humornya

Sewaktu menjadi presiden dan tinggal di Istana Negara pun kebiasaan orang banyak berkumpul di sekitarnya pun tetap berlangsung. Istana Negara yang biasanya angker dan tak terjangkau rakyat, mendadak bisa dimasuki siapa saja dengan memakai pakaian bagaimana saja.

Satu kali Gus Dur menanggap wayang kulit ke istana. Ia mengundang teman-temannya dari berbagai kalangan untuk menonton. Lantaran banyaknya tugas presiden, tim protokoler membatasi wayang hanya main sampai jam 12 malam.

Jam 12 malam wayang betul-betul selesai. Ia masih lanjut mengobrol dengan beberapa temannya sampai jam 1 pagi. Protokoler mengingatkan Sang Presiden agar masuk ke kamar, karena besok pagi tugasnya banyak.

Gus Dur menurut masuk ke kamar…mengajak teman-temannya, dan lanjut mengobrol di dalam kamar. Tim protokoler hanya melongo. Sudah barang tentu mereka tak berani menerobos ke kamar presiden.

Lewat kedekatannya dengan banyak orang dari berbagai latar belakang inilah pria ini meneruskan perjuangan ayahnya. Setidaknya ia ikut terlibat dalam segala persoalan nyata masyarakat bawah. Ia menyaksikan sendiri keluh-kesah dan penderitaan rakyatnya.

Ketika mantan Ketua Umum PBNU ini wafat, pemandangan yang pernah ia kagumi saat mengantar jenazah ayahnya, banyak orang berjajar di tepi jalan menyambut jasad pahlawannya, terjadi juga padanya. Saat itu saya ikut berdesakan dengan banyak orang

Ribuan, mungkin puluhan ribu orang berjajar di jalan sepanjang beberapa kilometer, juga memadati kompleks rumahnya di Ciganjur, menyambut jenazahnyan yang baru pulang dari rumah sakit.

Di rumahnya orang-orang berdesakan menjenguknya untuk kali terakhir. Ada yang bergantian menyembahyangi jenazah, ada yang mendoakan dan menangis di samping jenazah. Para pelayat datang dari berbagai latar belakang. Mulai presiden sampai pemuda dengan jins robek-robek. Mulai kiai sampai pemuka agama lain. Semua berbagi kesedihan dan kehilangan yang sama.

Pada malam duka itu saya dan beberapa teman ikut larut dalam kerumanan kesedihan di Ciganjur. Semua wajah terlihat sedih.

“Para kiai dan santri yang habis melayat, pulang dengan wajah seperti jenderal dan prajurit kalah perang,” bisik teman saya. Saya cuma bisa mengangguk.

Besoknya, ketika jenazah dimakamkan di Jombang, kembali begitu banyak orang memadati. Pasukan pengawal Presiden SBY yang biasanya tertata sangat rapi dan disiplin, saat itu sudah tak berdaya. Barisan mereka ringsek dan ikut berbaur dengan desakan banyak orang. Hingga hari ini makam tersebut masih ramai dikunjungi orang.

Gus Dur sepanjang hidupnya menerima fitnah dan cemooh dari berbagai pihak. Sepanjang hidupnya tak sekalipun berusaha membela diri dari hujan tuduhan yang ditujukan padanya. Ketika wafat ia membuktikan bahwa ada jauh lebih banyak cinta untuknya, dan begitu banyak rasa kehilangan mengantar kepergiannya.

Related Post

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.