Kliping

Mengingat Sang Pendekar Pena Mahbub Djunaidi

Posted On
Posted By Ahmad Makki

Sumber: NU Online

Jakarta, NU Online. Gabungan forum studi mahasiswa Ciputat mengadakan diskusi tentang Pendekar Pena Mahbub Djunaidi pada Kamis, (27/07). Acara berlangsung di Asrama Putri PMII Cabang Ciputat pada pukul 19.30 sampai 23.30. Dimulai dengan tahlilan. Kemudian meniup lilin sebagai hari ulang tahun Mahbub Djunaidi yang ke 78 oleh Profesor Chotibul Umam, sahabat Mahbub sewaktu di PB PMII dan surat kabar Duta Masyarakat.

Diskusi dengan tema “Gerak dan Mata Pena Mahbub Djunaidi” diawali dengan dibacakannya salah satu esai Mahbub berjudul “Kretek” yang dimuat di rubrik “Asal-Usul” harian Kompas oleh Hafiz Kurniawan. Dilanjutkan testimoni, Chotibul Umam. Ia mengatakan, Mahbub adalah orang NU yang langka dan melampaui zamannya. Ia pejuang yang pintar menulis. Ciri khasnya, ia menulis sekali jadi. Hasilnya alamiah dan spontan.

“Jika ada wartawan menulis, kemudian membuang tulisan itu, pak Mahbub akan marah. Menulis itu harus sudah matang dalam pikiran,” tambah kakek kelahiran Kudus 7 Juni 1936 ini.

Chotib menambahkan, Mahbub adalah seorang kutu buku. Buku apa pun dibacanya. “Saya pernah menemani pak Mahbub dalam perjalanan ke Mesir. Dia membeli lima buku dan menghabiskannya dalam perjalanan. Setiap buku yang habis dibacanya kemudian ditandatangani.”

Diskusi yang dimoderatori Abdullah Alawi ini dihadiri sekitar 50 orang peserta dari berbagai forum studi Ciputat, yaitu Piramida Circle, Makar, Mahakam, dan Ersous. Menghadirkan dua narasumber: Amsar A. Dulmanan dan Ahmad Makki.

Amsar dari kelompok Kajian 164, mengatakan gerak perjuangan Mahbub dilakukan melalui PMII, NU, partai politik. Kemudian mengawalnya dengan tulisan. Gerak dan menulis jadi satu. Cita-citanya adalah Indonesia yang bebas dari ketidakadilan, kebebasan pers dan menjaga pluralitas.

Baca  Sulitnya Mencari Mahbub Djunaidi

Amsar juga menambahkan, Mahbub adalah seorang religius. Dia sangat mencintai pesantren dan menghormati kiai. Meski dia juga tidak suka dengan feodalisme.

Pembicara lain, Ahmad Makki, dari Historia Online, menggeledah Mahbub lewat esai-esainya. Menurutnya, Mahbub selalu memandang realitas dari sudut pandang orang yang tidak tahu. Bahkan lugu. Struktur-struktur yang ada, dianggapnya sesuai dengan prosedur. Dibumbui humor, pembaca diajak tamasya sambil ketawa-tawa. Tapi di akhir paragraf, pembaca bisa terbengong dan kaget. Mahbub menggerogoti jalinan yang dibangun, kemudian meruntuhkannya, dengan hanya satu pertanyaan dan kadang membenturkan dengan kenyataan.

“Dalam esai Mahbub, terdapat pemberontakan literer. Ia tak ambil pusing dengan EYD,” tambah aktivis Koin Sastra Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) H. B. Jassin ini. “Tapi pelanggaran Mahbub bukan sembarang pelanggaran. Ia telah memenuhi tagihan sertifikat licentia poeitica dengan impas. Karena itulah, Mahbub lebih senang dipanggil sastrawan.”

Makki menambahkan, esai Mahbub menciptakan metafora-metafora yang khas, orisinal dan sublim. Karena itulah Mahbub adalah penyihir kata.

Tanya jawab pun berlangsung dengan seru. Beberapa orang mengakui sebagai mualaf Mahbub Djunaidi dan terpingkal-pingkal ketika membaca esainya. Mereka mengharapakan supaya diskusi tentang ini diteruskan dan sama-sama menginventarisir buku-buku Mahbub yang semakin langka.

Related Post

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.