QuoraSepakbola

Mengapa semua orang memuji Jurgen Klopp padahal dia gagal lagi membawa trofi ke Liverpool?

Jurgen Klopp, Mengapa semua orang memuji Jurgen Klopp padahal dia gagal lagi membawa trofi ke Liverpool? Posted On
Posted By Ahmad Makki

Biar enak dan adil membahas Jurgen Klopp, kita pakai kasus perbandingan dengan riwayat Sir Alex Ferguson di Manchester United.

Saat ini orang menganggap Fergie sebagai salah satu manajer sepakbola terbaik sepanjang masa. Tapi periode awal di United, dengan durasi yang sama seperti Jurgen Klopp sekarang, Fergie malah pernah hampir kejeblos degradasi. Meski begitu riwayat jangka panjang Fergie menutupi pengalaman jatuh-bangun di periode awal.

Sekarang kasus Kloppo. Waktu dia datang Liverpool itu lebih mirip museum ketimbang klub elite. Koleksi trofi banyak tapi mayoritas hasil masa lalu. Skuad yang diwarisi Kloppo, dilihat sekilas pun orang sudah bisa bayangkan levelnya di bawah Manchester City dan Chelsea saat itu, bahkan di bawah Manchester United.

Saya setuju kata Makarim Muhammad tentang karakter Kloppo. Pertama kepribadiannya kuat; kharismatik, bersemangat dan antusias, kedua ia bisa menularkannya kepada skuad dan pendukung. Saya bukan pendukung Liverpool, tapi harus mengakui klub itu seperti mendapat gairah baru dan bisa bikin merinding semua orang. Istilah “keangkeran Anfield” menemukan makna barunya bersama Klopp.

Karakter kepribadian Klopp ini seperti tercermin betul dalam gaya strateginya yang sering disebut media sebagai Geggenpressing, seperti juga dibahas dalam jawaban Faisal Fitriadi Rakhmawan.

Kloppo punya istilah sendiri buat menggambarkan gaya main tim-tim asuhannya. Itu pernah ia sebut waktu masih melatih Borussia Dortmund. Waktu itu orang masih tergila-gila dengan Barcelonanya Pep Guardiola dan Arsenalnya Arsene Wenger. Keindahan permainan kedua tim tersebut sering dibandingkan dengan orkestra. Klopp ogah timnya dibandingkan dengan orkestra, “tim saya memainkan sepakbola heavy metal,” katanya. Timnya bermain dengan tempo tinggi, menghibur, presisi dan bekerja keras.

Dari sejarah kita tahu bahwa para penggemar sepakbola, apa pun tim favoritnya; diakui terbuka atau tidak, selalu menyimpan kenangan hangat kepada tim apa pun yang bermain menghibur, terlepas jumlah trofi yang didapatkan. AC Milan sama-sama juara Liga Champions di era Arrigo Sacchi dan Fabio Capello, tapi orang selalu menceritakan ulang Milannya Sacchi karena gaya permainan indahnya. Untuk alasan yang sama orang mengenang Barcelona era Johan Cruyff dan Pep Guardiola, Belanda era Rinus Mitchel dan Cruyff, Arsenal era kejayaan Wenger, Brasil 1982, Manchester Unitednya Sir Fergie, Dinamo Kievnya Viktor Maslov, dan semacamnya. Meski masih terlalu singkat untuk dinilai, gaya taktik Kloppo sampai level tertentu mengingatkan orang dengan upaya tim-tim yang disebut di atas untuk menampilkan sepakbola yang enak ditonton.

Baca  Empat Catatan Betul-betul Penting Pascafinal Liga Champions 2016/2017

Selanjutnya perkara trofi dan gagal/berhasilnya Klopp. Penilaiannya bisa sangat subjektif. Tapi menurut saya masih terlalu cepat menilai Klopp gagal/berhasil secara jangka panjang.

Loh, Pep Guardiola di musim keduanya bersama City sudah bisa juara kok?

Betul, tapi perlu cara pandang yang kompleks membandingkannya. Pertama, Pep mewarisi tim yang belum lama menjadi juara dan beberapa pemain kuncinya masih jadi pemain utama. Sedang Kloppo, sekali lagi mewarisi museum. Liverpool saat itu lebih banyak ahli sejarahnya ketimbang pemain bintangnya.

Kedua, Pep datang dalam kondisi seluruh jajaran klub menyiapkan segalanya untuk mendukung sepenuhnya. Direktur Sepakbola City Txiki Begiristain memastikan semuanya siap bekerja sesuai arahan Pep sebelum ia datang. Sedang Kloppo sendiri masih harus adaptasi dengan pendiriannya sendiri soal transfer, meyakinkan direksi klub yang cenderung menghindari transfer mahal, menularkan mental juara pada skuad yang pengalamannya bersentuhan dengan trofi sangat minim.

Sambil membereskan kondisi yang menyulitkan, Kloppo berhasil mencapai Final Liga Champions dua kali berturut-turut dan mulai menjadi penantang serius di Liga Primer Inggris. Menurut saya untuk hal tersebut, dalam jangka pendek ia bisa dibilang sukses, terutama dalam hal mengubah mentalitas dan kultur klub.

Untuk jangka panjangnya kita akan melihat pada musim-musim berikutnya, katakanlah sampai lima tahun. Kalau ia kesulitan meningkatkan level Liverpool dan tetap sekadar jadi penantang ya apa boleh buat, good guy sepakbola satu ini mesti kita sebut gagal.

Kembali pada kasus Sir Alex Ferguson di atas. Pada periode awalnya pengalaman Jurgen Klopp lebih mulus ketimbang Fergie di United. Waktu yang akan membuktikan apakah dia akan layak disebut bersama Fergie, atau sekadar jadi pelatih berbakat yang nanti akan orang ceritakan dengan kalimat, “sayang sekali”

Baca  Bagaimana Mino Raiola mengencingi cinta Milanisti kepada Donnarumma

Sumber: Quora

Related Post

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.