Jurnal

Kleng

Posted On
Posted By Ahmad Makki

Saya kaget melihat Putu Wijaya berdiri di antara kerumunan orang. Sendirian. Tapi tak lama kemudian saya sadar tujuan kami sama.

“Pak Putu, mau lihat Kleng diwisuda ya?” tegur saya. Ia mengiyakan dengan sumringah. Kleng adalah nama panggilan kawan saya, almarhum Eddy Samjaya.

“Orangtuanya tak bisa datang. Saya datang buat menghiburnya. Ia sudah saya anggap anak sendiri”.

“Loh kok Pak Putu enggak masuk? Apa Kleng enggak kasih undangan masuk?”

“Dia tidak tahu saya datang. Dia bahkan tidak memberitahu saya akan diwisuda hari ini,” kata Putu sambil terkekeh.

Lalu kami ngobrol sambil menunggu para wisudawan keluar dari gedung acara. Saat ketemu, Putu Wijaya memeluk Kleng erat, saya mengantre. Giliran saya memeluknya, ia menantang saya agar lekas diwisuda.

Hari itu, bertahun-tahun lalu, saya jadi tahu kebenaran cerita beberapa teman soal dekatnya hubungan Kleng dengan Putu Wijaya. Hal inilah yang kemudian saya ingat saat bersama teman-teman sekampus membuat acara dadakan, testimonial mengenang Gus Dur, beberapa hari setelah wafatnya.

Jelang acara tersebut kami tak punya banyak dana. Sumbernya dari urunan panitia dan kepedulian beberapa orang. Cukup buat membiayai perangkat acara, tapi tidak buat mengongkosi transportasi pembicara.

Saya kemudian menemui Kleng. Ngobrol soal acara tersebut. Tak lama ia menangkap maksud saya. Ia minta saya menemui Putu Wijaya di rumahnya. Kleng sendiri akan berbicara dengan ayah angkatnya itu. Dan beberapa hari setelah saya berkunjung ke rumah yang kala itu terpasang bendera setengah tiang, Putu Wijaya bermonolog di acara kami, memungkasi testimoni 7-8 -saya tak ingat persis jumlahnya- pembicara lain dari berbagai daerah. Mereka datang tanpa diongkosi.

Hari-hari ini saya mendadak ingat dengan almarhum Kleng. Sekitar lima tahun lalu, kami bertemu di jalan. Suasananya jelang pemilu seperti saat ini. Seperti biasa ia menyapa sambil berteriak. Lalu kami ngobrol di warung kopi langganan.

Baca  Riwayat Kawan Bicara

“Jadi siapa yang mesti kita pilih di pemilu ini, Kleng?” tanya saya bercanda. Saya menggoda karena tahu, dengan sadar ia abai dengan politik.

“Aku mau pilih Prabowo kalau dia lolos jadi capres,” jawabannya bikin saya kaget, karena tak koheren dengan prinsip dan pemikirannya yang saya kenal.

“Kenapa?”

“Ya biar hancur sekalian negara ini,” katanya. Kami tertawa. Saya tahu ia hanya muak. Lalu setelah mengobrol dan habis sebatang kretek kegemarannya, ia pamit dan menancap gas Vespa merah kesayangannya.

Saya tak tahu apakah warna motor Kleng berhubungan dengan tim sepakbola favoritnya. Tapi kami memang sama-sama penggemar tim Iblis Merah, Manchester United. Misal masih hidup, musim kompetisi lalu saya yakin Kleng akan sering chatting dengan saya lewat facebook, dan menyumpah tak habis-habis melihat performa tim jagoan kami.

Terakhir kali saya sempat mengobrol panjang dengan Kleng adalah beberapa bulan sebelum kepergiannya. Saya datang ke kosnya, memintanya mengisi diskusi soal film Balibo yang kontroversial. Sebelum datang, tak seperti biasa saya membeli rokok kretek yang digemarinya agar kami bisa berbagi. Ternyata ia tengah puasa merokok.

“Ini aku baru bisa bangun. Kemarin ambruk seminggu lebih, paru-paruku bermasalah,” katanya. Saya menawarkan untuk tak usah hadir saja di acara yang tinggal beberapa hari di muka, biar dia istirahat dan memulihkan diri. Tapi dia meyakinkan saya.

Selepas acara bedah film itu kami sesekali ketemu dan tak pernah ngobrol panjang. Tahu-tahu saya dengar kabar ia baru saja wafat. Saya ingat pernyataannya pada suatu hari.

“Sejak bapakku pergi, caraku melihat kematian banyak berubah. Aku tak lagi merasakan kehilangan. Dengan orang-orang yang meninggal, kita hanya tidak bertemu saja.”

Baca  Quran dan langgam bacanya

Saya ingin bisa bersikap sepertinya. Tapi gagal.

Saat teman-teman Kleng di Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) teater UIN Jakarta dan lainnya mengadakan acara buat mengenangnya, saya diminta bertestimoni dan direkam video. Saya bersedia. Tapi saya tak sanggup datang ke acaranya. Saya tahu mereka jauh lebih mengenal Kleng, tapi saya begitu pengecut, tak sanggup menunjukkan rasa kehilangan di depan banyak orang. Saya sembunyi.

Dan beberapa hari setelah saya diwisuda dulu, saya baru benar-benar bisa menghadapinya. Saya memandangi foto saya dan Kleng di hari wisudanya. Saya melunasi tantangannya.

Hari ini saya ingat sudah lama tak mendoakannya. Semoga kau selalu tenang di sisi-Nya, Kleng. Menikmati kopi dan rokok kretek dengan khidmat.

Related Post

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.