Jurnal

Kenangan sahur

mie rebus sahur Posted On
Posted By Ahmad Makki

Salah satu kenangan sahur paling berkesan adalah wajah memelas penuh rasa bersalah seorang teman kos yang tengah dapat giliran piket masak nasi. Itu terjadi sekitar 2001 atau 2002. Waktu itu saya sedang di tahun pertama kuliah di UIN Jakarta, dan ngekos di Ciputat.

Ketika insiden tersebut terjadi, kami baru bangun dan teman yang dapat jatah piket memekik pelan dan langsung dududk menggelesor di lantai. Pasalnya, meski rice cooker sudah dicolok sejak malam, ia baru sadar 15 menit jelang subuh kalau tombolnya tidak pernah dipencet. Kami memandangi rendaman beras dalam rice cooker dengan perasaan campur aduk; separuh murka, separuh putus asa.

Seisi kos, enam orang lelaki apes, tunggang-langgang seperti diuber setan, mencari warkop sebelum azan. Warkop terpaksa kami pilih sebab warung-warung makan sudah kehabisan lauk.

Ketika menemukan warkop yang masih aktif, saya menggasak semangkuk mie instan sembari mengisap rokok. Sebab keduanya mustahil ditinggalkan.

Baca  Ojek

Related Post

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.