Esai

Ikhwal “minggat dari kebebasan” dan Pemilu 2019

pemilu, Ikhwal “minggat dari kebebasan” dan Pemilu 2019 Posted On
Posted By Ahmad Makki

Dalam buku Escape from Freedom Erich Fromm menggambarkan tentang kebebasan; hal yang melepaskan belenggu pada manusia, tapi juga menakutkan dan bikin gelisah. Dengan cara yang indah ia mengibaratkan kebebasan dengan peristiwa terusirnya manusia dari surga.

Keluar dari surga melemparkan manusia dalam kondisi kebebasan. Hilang berbagai belenggu, sekaligus hilang juga segala jaminan. Manusia bisa melakukan apa pun yang dimau, tapi juga mesti bertanggung jawab sendiri. Semua solusi dan kesimpulan harus dipikirkan sendiri, segala pilihan dan perbuatan harus ditanggung akibatnya sendiri.

Begitu kebebasan, menerbitkan harapan dan memungkinkan manusia memenuhi potensinya. Contoh mudah proses pembebasan adalah belajar dan refleksi diri. Belajar membebaskan pikiran dari kebodohan, bikin kita enggak gampang percaya katanya orang. Refleksi membebaskan dari kebiasaan ikut-ikutan, membuat kita bisa menentukan sendiri pilihan yang mesti kita ambil.

Tapi kebebasan juga datang dengan tagihan tanggung jawab dan kondisi serba tidak pasti. Semua akibat dari pilihan dan perilaku mesti kita tanggung sendiri, baik enak dan enggaknya. Belajar dan refleksi bisa bikin manusia berpikir dan mengambil pilihan berbeda lalu dikucilkan orang sekeliling. Konsekuensi semacam inilah yang menumbuhkan rasa takut dan gelisah pada diri setiap orang.

Karena menakutkan dan menggelisahkan, banyak orang enggak tahan, minggat dari kebebasan dan memasang kembali berbagai belenggu yang pernah menjeratnya.

Keputusan minggat dari kebebasan, kata Erich Fromm, berpotensi memunculkan praktik otoritarianisme, perilaku destruktif dan kebiasaan konformitas alias ikut-ikutan orang banyak di sekeliling.

Rasa takut dan gelisah pada kebebasan itu bukan hal main-main. Bahkan bisa meneror orang yang sedang berusaha mengambil pilihan yang kelihatannya rutin dan biasa. Misalnya memilih kandidat dalam pemilu 2019.

Baca  Menolak Arabisasi Islam Indonesia

Pemilu memberi kebebasan pada tiap orang, melakukan pilihan atas pertimbangan dirinya sendiri. Untuk menyeleksi kandidat yang mesti dilakukan adalah mencari tahu rekam jejak dan rencana yang mereka susun kalau dapat kesempatan berkuasa.

Namun proses pencarian ini bisa menakutkan buat orang. Banjir informasi dan kesulitan memilah info yang valid dan relevan, khawatir salah pilih, sampai rasa takut pilihannya tidak disukai orang-orang di sekitar, menghadirkan rasa takut dan gelisah.

Yang menyerah teror tersebut akhirnya minggat dari kebebasan dan menggantungkan pilihan pada hal-hal lain di luar dirinya. Bisa tokoh seperti ulama atau selebritas, primordialitas, atau hal lainnya yang tidak relevan.

Perilaku tersebut merupakan upaya mencari tempat berlindung yang nyaman, dari kebebasan yang datang bersama dengan risiko dan tagihan tanggung jawab. Prinsipnya, “kalau pilihannya salah, yang mesti tanggung jawab kan bukan gua sendiri. Dosanya juga bukan gua yang nanggung. Kan gua cuma ikut-ikutan”.

Related Post

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.