Esai

Hikayat mualaf dari Ciputat

Posted On
Posted By Ahmad Makki

Sumber: Bincang Syariah

BincangSyariah.Com – LAZIMNYA kunjungan ke rumah duka, begitu mendekat kita akan segera disuguhkan suasana sedih keluarga yang ditinggalkan. Begitu pula yang saya alami sekitar setahun lalu ketika menyambangi rumah seorang teman di bilangan Ciputat, Tangerang Selatan, yang baru saja ditinggal wafat ibu pemiliknya. Karangan bunga ucapan belasungkawa terpampang di luar pagar. Sepasang mata teman saya yang masih basah, menyambut sambil tersenyum.

Leonardus Herriadi Saputro, demikian nama lengkap teman saya, termasuk nama baptis Katoliknya. Panggilannya pendek, Putro. Ia terlahir sebagai seorang penganut Katolik, yang menyulih keimanannya menjadi seorang muslim saat usia dewasa. Saya tidak tahu dan tidak pernah berniat menanyakan, apakah ia mengubah atau mengutak-atik namanya sejak masuk Islam, sebagaimana banyak dilakukan mualaf lain.

Setelah menyampaikan ucapan duka dan mengikuti prosesi tahlil, saya ikut berkumpul bersama Putro dan beberapa teman lain di depan rumahnya. Awalnya saya masih agak kikuk bicara banyak, lantaran belum betul-betul yakin kondisi psikologis Putro. Tapi melihatnya mulai bercanda dan tertawa, sesuai tradisi pertemanan kami, saya pun menggebrak dengan ejekan.

“Awaslu sampai jadi mualaf sontoloyo! Setelah masuk Islam, terus merasa paling suci dan mulai menyalahkan semua orang,” kata saya. Orang yang saya sasar tertawa dan “menyerang” balik. Pertukaran ejekan pun berlangsung. Sejak malam sampai dini hari di rumah duka suara ketawa terus terdengar.

Sebetulnya Putro sudah bertahun-tahun masuk Islam. Tapi lantaran saya kurang paham masa kadaluarsa sebutan mualaf, saya anggap dia masih mualaf. Saya juga tahu sejak masuk Islam Putro memilih teman dan guru agama yang baik, yang mengajarkannya keramahan agama dan toleransi.

Sebelum ibunya meninggal, saya dan Putro tidak pernah sempat bertemu selama bertahun-tahun, sejak saya tak lagi tinggal di Ciputat. Kami hanya sesekali bertukar kabar via media sosial dan Whatsapp. Adalah kabar wafat ibunya yang mengantar saya kembali ke rumah tersebut. Saya ingat ketika masih kuliah S1 di Ciputat, pintu rumah keluarga Putro selalu terbuka buat saya. Kedua orangtuanya selalu menawari saya makan saban berkunjung. Tidak perlu saya terangkan kenapa tawaran demikian selalu gagal ditolak pemuda berstatus mahasiswa seperti saya kala itu.

Sejak pertama kami saling mengenal, medio pertengahan dekade 2000-an, tidak perlu waktu lama bagi Putro untuk mulai intens main ke kos saya, kemudian berkenalan dengan teman-teman komunitas muslim di Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta. Kebetulan ia pemain musik berbakat. Sejak saya kenal, lelaki yang mahir bermain gitar ini sudah aktif manggung di berbagai tempat bersama grup musiknya. Saya kebetulan juga menyukai musik dan mengenal banyak teman penghobi musik di UIN Jakarta. Ini memudahkan saya mengenalkannya ke teman-teman lain.

Pengalaman bersentuhan dengan perbedaan keyakinan sebenarnya bukan hal yang kelewat asing buat Putro. Keluarga bapaknya terdiri dari penganut Islam dan Katolik. Meski begitu ia mengaku bahwa pengalamannya secara intens melihat langsung dan terlibat dalam kehidupan keseharian lingkungan muslim, baru terjadi setelah ia bergaul dengan komunitas muslim UIN Jakarta.

Baca  Berdebat di Media Sosial sampai Kesasar di Rimba Istilah

Semakin dalam pertemanan kami, semakin sering terjadi pertukaran ejekan sensitif yang menyinggung perbedaan iman kami. Tentu semua kelakar belaka, pertanda hangatnya pertemanan. Percakapan kami memang penuh kelakar “berbahaya”. Tapi tidak pernah ada yang saling tersinggung. Banyak koleksi ejekan yang kalau diceritakan di sini berpotensi bikin serial demonstrasi besar-besaran.

Ketika pertemanan kami melampaui usia tahunan, Putro makin banyak berkenalan dengan teman-teman muslim. Kadang di sela bercanda ia bilang kepingin masuk Islam. Saya sesekali menanggapinya serius dan mengatakan, buat keputusan sebesar itu dia mesti pikirkan baik-baik. Berganti keimanan tidak sama urusannya seperti berganti pakaian atau gaya rambut. Buat saya yang paling penting dari perubahan agama adalah perbaikan perilaku dan sudut pandang. Ia setuju. Tapi keingintahuannya tentang seluk-beluk Islam memang tidak bisa disembunyikan.

Belakangan ketika mengingat kembali masa-masa awal pertemanan kami, Putro mengatakan dulu ia sering beranggapan bahwa Islam adalah agama yang membolehkan kekerasan. Selain mendengarnya dari sumber yang keliru, ia juga berkali-kali melihat berita tentang segelintir kelompok mengatasnamakan Islam yang kerap main hakim sendiri mengumbar kekerasan.

Tapi mengenal komunitas muslim di UIN Jakarta membuat pandangannya jauh berubah. Ia menyaksikan keseharian umat muslim yang punya pengetahuan agama yang baik, bersikap rileks, penuh humor, dan bisa menerimanya tanpa perbedaan perlakuan. Ia mengagumi kelompok mahasiswa yang bersemangat mendalami berbagai macam pengetahuan seperti filsafat, sastra dan lainnya, serta memiliki wawasan yang baik. Ini membuat rasa penasarannya kepada Islam semakin dalam.

Dari sana ia diam-diam mempelajari pikiran ulama muslim moderat seperti K.H. Abdurrahman Wahid. Bahkan ia sempat membaca buku tentang subjek yang kontroversial dalam sejarah Islam di Indonesia, yakni riwayat Syeikh Siti Jenar.

Ketertarikan Putro kepada Islam semakin dalam manakala ia menjalin hubungan cinta dengan seorang perempuan muslim, Asih Sumiasih. Dari sini ia mulai secara intens memperhatikan berbagai ritual ibadah yang dijalani muslim. Ia, misalnya, bertanya-tanya kenapa pacarnya mesti membersihkan diri (wudu) sampai lima kali sehari demi melakukan salat.

Ketika menjadi semakin yakin dengan ketertarikannya pada Islam, Putro menyempatkan diri berpikir mendalam selama setahun sebelum mengambil keputusan. Akhirnya pada tahun 2011 tekadnya bulat untuk menjadi seorang muslim. Atas bantuan seorang teman, proses pembacaan syahadat yang menandai penyerahan Putro kepada ajaran Islam, dilakukan di Masjid Al-Ikhlas, Fatmawati.

SAYA ingat ketika Putro baru masuk Islam, saya main ke rumahnya dengan perasaan tak menentu. Saya tidak berani membayangkan bagaimana sambutan mama dan adiknya nanti. Saat itu papanya Putro telah wafat beberapa waktu sebelumnya.

Baca  Jejak Kopi dalam Penyebaran Islam

Ingatan tentang kehangatan rumah itu di sekitar Hari Natal, muncul di kepala saya lebih jelas dari biasanya. Saya memang beberapa kali bertandang ke rumah tersebut di sekitar waktu Natal, ikut menikmati hidangan dan kegembiraan sebuah keluarga. Keluarga ini juga yang dulu selalu mengundang saya bertandang dan menumpang makan, kapan saja saat saya tengah kesulitan keuangan sebagaimana umumnya dialami mahasiswa. Mereka juga yang selalu menyambut saat saya kembali ke Ciputat sehabis Lebaran di rumah.

Hari itu saya kembali bertandang dalam suasana berbeda. Memasuki gerbang rumahnya rasanya saya kepingin ngumpet. Bukan karena takut, tapi merasa tidak enak. Bagaimana pun berganti agama bukanlah perkara yang bisa terjadi setiap hari. Saya yakin mayoritas orang tidak pernah betul-betul siap mengetahui anggota keluarganya mengganti agama.

Ketika mamanya Putro mengetahui kedatangan saya, ia menghampiri ke ruang depan dan duduk di dekat saya. Saya tahu wajahnya tetap ramah seperti biasa, tapi saya tak sanggup melihat dan lebih banyak menunduk. Setelah menanyakan kabar dan berbasa-basi, ia berkata.

“Tolong bantu jaga anak Tante. Kalau dia berlaku jelek ke orang lain, tolong diingatkan. Kalau dia enggak terima, bilang Tante sendiri yang minta kamu”.

Mendengar itu saya ingin bilang beberapa hal, tapi tenggorokan saya terasa beku. Akhirnya saya cuma bisa mengangguk. Dari Putro saya mengetahui bahwa tak lama setelah itu ibunya menyusul masuk Islam, setelah selama 14 tahun diam-diam mempelajari.

Aci, panggilan akrab pacar yang kemudian menjadi istri Putro, banyak membantunya di masa-masa transisi keimanan. Ketika mereka dan beberapa teman lain main ke kos saya dan memasak bersama, saya melihat sendiri Aci dengan telaten menuntun Putro berwudu dan mengerjakan sembahyang

Setelah merasa mapan dengan pengetahuan dasar-dasar praktis keislaman sehari-hari, Putro tertarik mendalami tasawuf. Di UIN Jakarta, tidak sulit mencari teman yang bisa menuntunnya mempelajari dasar-dasar tasawuf dan merekomendasikan tarikat tasawuf yang cocok.

Ketika saya tanyakan hal yang berubah setelah ia menjadi seorang muslim, ia menjawab sekarang merasa lebih bahagia. Dasar latar belakangnya seorang pemain musik, ia menganalogikan dirinya sebagai sebuah gitar.

“Ibarat gitar, kalau setelan senarnya enggak sesuai nada, sekarang ada tuner-nya (indikator kesesuain tegangan senar gitar). Jadi lebih gampang disetel ulang,” katanya.

Saat ini ia terus melanjutkan aktivitas bermusik. Profesi utamanya menjadi guru musik di sebuah sekolah di Jakarta Selatan, di mana ia disenangi banyak muridnya. Selain itu ia kerap manggung di berbagai tempat bersama band-nya, Red White.

Sampai hari ini Putro mengaku senang dengan keputusannya masuk Islam. Sebagai kawan, saya tentu ikut senang. Tapi sejujurnya sejak Putro masuk Islam, saya kehilangan teman bertukar ejekan sensitif tentang keimanan.

Related Post

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.