Tokoh

Gus Dur dan Politik

Gus Dur dan politik, Gus Dur dan Politik Posted On
Posted By Ahmad Makki

Gus Dur dan politik susah dipisahkan. Keterlibatannya dalam politik bukan macam gaya-gayaan, aktivitas kurang kerjaan, atau perilaku politik praktis yang cuma cari-cari kursi. Jauh sebelum mendirikan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dia telah dikenal lewat pertarungan politik yang sengit dengan Soeharto.

Seorang dai asal Depok pernah menceritakan soal licinnya jurus politik Gus Dur.

“Dulu saya pembenci sejatinya Gus Dur,” kata sang dai pada suatu malam di beranda rumahnya. Mendengar ini saya sedikit tersentak saat mengisap rokok sampai terbatuk. Setahu saya dai ini sudah lama cukup dekat dengan Gus Dur.

“Sejak kuliah di Mesir saya udah enggak betah denger nama Gus Dur,” kata sang dai melanjutkan ceritanya.

Dia tahu kabar tentang Gus Dur dari berbagai terbitan dan selebaran sesama mahasiswa Indonesia di Mesir. Kabar tentang Gus Dur selalu terdengar buruk. Sikap sinis pada Gus Dur ini ia bawa sampai pulang kembali ke Indonesia

Pada suatu hari seorang teman mengajaknya datang ke Ciganjur, menghadiri pengajian di rumah Gus Dur. Temannya yang tahu perasaan dai ini bilang bahwa ini kesempatan dia untuk mendengar langsung omongan orang yang ia benci.

Dia datang dan sampai di sana mendengar Gus Dur berkata ingin mendukung Jenderal Benny Moerdani menjadi presiden. Semakin menyala saja api kebenciannya.

Sebagai informasi, Benny Moerdani adalah salah satu jenderal tangan kanan Soeharto. Namanya tak populer di kalangan banyak kelompok muslim lantaran terlibat Tragedi Priok. Kebetulan Moerdani adalah seorang Katolik, membuat tragedi ini sering dilihat kurang jernih.

Si dai yang hatinya makin panas mendengar tuturan Gus Dur, mendengar beberapa jamaah memprotes niat tuan rumah. Beberapa menolaknya karena alasan agama. Gus Dur dengan enteng merujuk pada Pancasila.

Baca  Mengingat ulang Gus Dur

“Dasar negara kita Pancasila. Dasar hukum kita UUD 1945,” kata Gus Dur yang diiyakan hadirin

“Apakah ada di Pancasila atau UUD melarang orang nonmuslim menjadi presiden?” tanya Gus Dur yang disambut gelengan hadirin.

“Apakah ada hal-hal yang membuat pencalonan Pak Benny dilarang Pancasila atau UUD?” forum kembali menjawab tidak.

“Ya kalau begitu sah-sah saja kan kalau saya mencalonkan Pak Benny sebagai presiden?” jamaah mengiyakan.

“Nah karena itu saya mau mengampanyekan dukungan buat Pak Benny,” kata Gus Dur mantap.

“Tapi sasarannya ya biar Pak Harto lemah,” sambung Gus Dur yang membuat hadirin melongo tak paham.

Pada era pertengahan 1980-an posisi Benny Moerdani sangat kuat. Bahkan ia dianggap orang paling kuat di Indonesia setelah Soeharto.

Gus Dur menjelaskan bahwa idenya mencalonkan Benny Moerdani hanya sebuah siasat. Sebagai orang paling kuat setelah Soeharto, Benny saat itu menjadi penopang utama kekuasaan sang presiden. Tapi pada dasarnya Soeharto tak suka melihat ada orang yang terlalu kuat di sekitar dirinya. Ia selalu curiga melihat ada anak buahnya yang kelewat populer. Soeharto ingin cuma ada satu matahari dalam Orde Baru, yakni dirinya.

Gus Dur ingin memanfaatkan celah potensi konflik ini. Mencalonkan Benny akan membuat kecurigaan Soeharto makin berdasar. Kalau kecurigaan ini sampai menjadi konflik, Soeharto bisa kehilangan salah satu sumber terbesar kekuatannya.

Pada akhirnya memang itulah yang terjadi. Benny tak bisa menyembunyikan rasa senang waktu namanya dikampanyekan Gus Dur. Soeharto melihat jenderal hebatnya ini mulai melampaui garis batas. Kerjasama keduanya bubar. Soeharto menjauhkan Benny dari kekuasaan. Imbasnya, gerbong kekuatan besar di belakang Benny juga ikut tersingkir. Orde Baru mendadak terlihat rapuh.

Baca  Gus Dur dan kontroversi

Demi mengisi kekosongan inilah Soeharto kemudian mendekati kelompok Islam. Ia merestui pembentukan MUI, mensponsori pendirian ICMI, menggelapkan banyak uang negara ke yayasan keluarganya untuk program pembangunan 1000 masjid, dengan tujuan menunggangi kekuatan mayoritas ini.

Pada akhirnya Soeharto memang bisa merangkul beberapa kelompok Islam, tapi Orde Baru tak pernah lagi sekuat sebelumnya, ketika kelompok militer masih jadi kekuatan utama. Dari bibit kerapuhan inilah Reformasi 1998 dimungkinkan. Gus Dur sendiri justru terserang stroke di sekitar momen terjadinya Reformasi.

“Dari pengalaman di Ciganjur itulah semua persepsi saya soal Gus Dur berbalik drastis,” kata sang dai sambil menerawang. Sejak itu ia membaiat dirinya sendiri menjadi santri Gus Dur dan mendapat kesempatan untuk lebih dekat dengan gurunya itu.

Sampai suatu saat setelah Reformasi, ketika Gus Dur akhirnya terpilih menjadi presiden. Jelang hari jumat pertama sejak terpilih, Gus Dur menelepon sang dai, memintanya menjadi khatib di jumatan pertamanya sebagai presiden. Sang dai mengiyakan. Di mimbar ia berkbutbah tentang jiwa kepemimpinan Sayidina Umar bin Khattab yang legendaris.

“Selesai jumatan, Gus Dur diam-diam mendekati dan mengusap-usap bahu saya tanpa mengatakan apa-apa,” kenang sang dai.

Related Post

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.