Tokoh

Gus Dur dan perbedaan

Gus Dur, Gus Dur dan perbedaan Posted On
Posted By Ahmad Makki

Seorang penggiat perlindungan dan penegakan hak anak-anak jalanan pernah menceritakan pengalaman unik bersama Gus Dur.

Saat itu Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) baru didirikan. Para pengurusnya termasuk Gus Dur tengah rapat di kantor pusat partai ketika mesin fax berbunyi. Yang masuk ternyata pesan cukup panjang, menghabiskan berlembar-lembar kertas.

Ketika pesan sudah lengkap tercetak isinya ternyata karikatur besar yang terbagi dalam beberapa lembar kertas ukuran hvs. Jadi seperti puzzle. Setelah disusun karikatur tersebut bikin orang seisi ruang yang melihatnya langsung terdiam.

Ya, semua yang melihatnya terdiam. Persoalannya, Gus Dur tak bisa melihat. Maka ia tidak diam.

“Fax yang masuk tadi apa isinya? Kedengarannya banyak,” tanya Gus Dur. Seisi ruangan saling pandang dan tetap diam.

“Heh kok ditanya pada diam?”

Seseorang memberanikan diri bicara. Ia bilang isinya karikatur. Dengan hati-hati ia menggambarkannya; wajahnya berkacamata dan mirip Gus Dur, tapi tubuh dan hidungnya mirip babi. Di lehernya tergantung kalung salib, sementara tangannya menggenggam tongkat pendek berlogo Bintang Daud khas Yahudi.

Semua orang tertekan menunggu reaksi Gus Dur. Yang jadi pusat perhatian malah tertawa keras sekali.

“Pas betul itu,” kata Gus Dur. “Kalau di Jawa, orang yang perawakannya seperti saya ya diledeknya seperti babi. Pas juga saya banyak punya teman baik dari kalangan Kristen dan Yahudi,” tambahnya menambahkan lalu tertawa terkekeh-kekeh. Ketegangan yang terasa membekukan ruangan kontan meleleh dan semua orang kembali rileks.

Perkara kedekatan Gus Dur dengan berbagai macam kelompok berlatar belakang berbeda itu bukan cerita baru. Ia bukan cuma kenal atau dekat dalam pengertian basa-basi, tapi sudah layaknya sobat kental.

Sikap terbuka ini ia turunkan dari bapaknya, K.H. Wahid Hasyim yang juga dikenal punya pergaulan sangat luas. Sejak kecil, di rumahnya kawasan Menteng, Jakarta, mantan ketua umum PBNU ini sudah terbiasa melihat bapaknya menerima tamu dari latar belakang macam-macam. Mulai dari sesama orang NU, kawan dari agama yang berbeda, sampai komunis dan buronan internasional semacam Tan Malaka pernah mampir menemui bapaknya.

Baca  Gus Dur dan humornya

Para tamu bapaknya akan mengingat Presiden RI ke-4 ini sebagai bocah gemuk berkacamata yang gemar menyeriusi buku-buku bertema berat saat mereka bertandang. Kadang dia selonjor sambil membaca di kolong meja, kadang membaca sambil duduk di pojokan, tak jarang pula dia membaca di atas pohon.

Di rumahnya pula Gus Dur menyaksikan bapaknya memimpin rapat-rapat para politikus dari berbagai macam partai untuk mengumpulkan dana pembangunan rumah seorang politikus senior yang miskin dari partai Katolik, I.J. Kasimo.

Para politikus yang saban hari berdebat adu urat di gedung DPR/MPR, urun rembuk dengan akur dan penuh kelakar di rumah seorang tokoh muslim yang sangat kesohor, untuk merencanakan pembangunan rumah bagi seorang pentolan kalompok Katolik. Sejak kecil pria yang pernah kuliah di Mesir ini sudah terbiasa menyaksikan iklim terbuka seperti ini. Tak heran ia tumbuh jadi orang yang penuh percaya diri.

Dalam bergaul dengan kelompok yang berbeda Gus Dur bukan hanya berteman, tapi ikut terlibat dalam penegakkan hak-hak mereka. Prinsip ini justru berdasar dari ajaran Islam yang dianutnya, yang sangat menjunjung tinggi keadilan bagi semua golongan.

Dalam sebuah pertemuan forum Gusdurian yang dibentuk setelah sang tokoh wafat, pernah hadir dua perempuan yang tak dikenal anggota lainnya yang biasa ikut berkumpul.

Saat sesi dialog, Alissa Wahid, putri sulung Gus Dur menyilakan keduanya mengenalkan diri, karena dia pun baru kali ini melihat keduanya. Tak diduga kedua perempuan ini punya pengalaman cukup mendalam dengan Gus Dur.

Dua perempuan tersebut mengaku pemeluk agama Baha’i, agama yang jumlah pemeluknya sangat minim di Indonesia. Sebagian keluarga mereka pindah ke Singapura, karena merasa kerap mendapat perlakuan diskriminatif di Indonesia. Kedua perempuan ini masih ngotot tinggal di Indonesia karena sayang dengan pekerjaannya.

Baca  Antonio Conte

Mereka sedikit merasa lega ketika Gus Dur, yang selama ini dikenal sebagai pejuang hak-hak minoritas, terpilih menjadi presiden. Tapi tak sedikit pun pernah terbayangkan kalau pada suatu hari sekonyong-konyong Presiden datang mengunjungi mereka.

Gus Dur menyemangati agar mereka tidak perlu takut menjalankan keyakinannya di Indonesia. Bahkan pada hari raya Baha’i, ia datang kembali ke tengah keluarga tersebut untuk mengucapkan selamat.

Mereka tahu sang Presiden orang yang sangat menghargai perbedaan dan sayang terhadap minoritas. Tapi tak pernah disangka di tengah kesibukannya ia mau datang untuk menemui kelompok yang jumlahnya tak sampai sebanyak jari tangan.

Saat cerita selesai, seisi forum gusdurian masih melongo. Tak seorang pun, termasuk anak-anak Gus Dur sendiri, pernah merasa mendengar cerita ini sebelumnya. Baru ketika perempuan yang bercerita itu terisak haru sambil mengusap air matanya, orang-orang sadar kembali.

Kebaikan memang tak bisa habis dikikis waktu.

Related Post

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.