Tokoh

Gus Dur dan kontroversi

Gus Dur, Gus Dur dan kontroversi Posted On
Posted By Ahmad Makki

Gus Dur dan kontroversi itu seperti cicak dan buntutnya. Sudah merupakan kesatuan. Seperti buntut cicak yang bisa putus dan tumbuh lagi, begitu juga kontroversi buat Gus Dur. Bisa saja satu kontroversi dijelaskan, tapi besok ya muncul lagi yang baru.

Pada dekade 1980-an, umat Islam di Indonesia sempat digegerkan kabar Gus Dur mengusulkan penggantian ucapan salam khas Islam, Assalamualaikum…, dengan selamat pagi, selamat siang, dan seterusnya.

Mulai dari ulama sampai rakyat biasa menghujat Gus Dur. Banyak macam bantahan yang diajukan orang. Pria bertubuh tambun itu seperti biasa menghadapinya santai saja. Ini yang jadi ciri khas Gus Dur sepanjang hayat.

Lalu sebetulnya bagaimana duduk perkara salam dan selamat pagi itu? Sekira setahun setelah Gus Dur Wafat, seorang sastrawan yang mantan wartawan membuat pengakuan.

Ketika masih menjadi wartawan di sebuah tabloid Islam bertiras kecil, sastrawan itu kerap nongkrong di gedung PBNU buat mencari berita. Apalagi NU saat itu dipimpin Gus Dur, orang yang celetukan isengnya saja bisa jadi headline nasional. Satu kali kesempatan yang diidamkan itu datang. Gus Dur sedang ngobrol santai dengan sesama pengurus NU. Di tengah kelakar itulah Gus Dur dengan bercanda menyebut soal salam dan selamat pagi.

Nah ini yang dicari, pikir si sastrawan yang tepat tengah menguping. Ia menggubah celetukan Gus Dur menjadi seperti pernyataan serius dan tak melakukan konfirmasi. Para redaktur di kantornya dengan girang menerima.

Berita naik cetak dan tepat seperti diharapkan, tiras tabloid melesat hebat, laku ratusan ribu eksemplar. Edisi tersebut sampai tiga kali naik cetak. Gus Dur mulai dihujat. Bagaimana Gus Dur menghadapinya? Anteng seperti biasa dan tetap ketawa-ketiwi. Tak sekalipun ia bersikap defensif.

Sastrawan itu mengaku belakangan ia membuat “pengakuan dosa” pada Gus Dur soal itu. Bagaimana tanggapan Gus Dur? Tak sedikit pun Gus Dur menyalahkan. Ia anteng seperti biasa seperti tak terjadi apa-apa dan tetap berkelakar tentang segala hal. Keduanya pun menjadi teman baik.

Baca  Ji-Sung Park si paru-paru tiga

Di sekitar pergantian dekade 1980-an dengan 1990-an, terjadi juga kegegeran sensasional gara-gara seorang wartawan muda Arswendo Atmowiloto. Waktu itu dia memimpin semacam tabloid selebriti yang banyak memajang foto-foto seksi para pesohor. Kualitas tabloidnya ya sekelas tabloid gosip, tapi lakunya minta ampun.

Satu kali dia iseng bikin poling pembaca dengan pertanyaan simpel, siapa orang paling populer menurut anda. Poling disambut baik sidang pembaca. Hasilnya, seperti dipublikasikan saat itu, Soeharto muncul di urutan pertama. Wajar, sebab congor orang ini setiap hari wajib wara-wiri di TVRI. Kalau tidak yang bikin acara bisa di…hehehe.

Nah yang kemudian dipermasalahkan banyak orang adalah nama Nabi Muhammad muncul di urutan sekian, urutan 5 atau 9 saya lupa persisnya. Banyak orang mendadak tersinggung. Mosok nabi gue kalah sama Harto? Padahal itu ya poling cerminan suara pembaca, bukan tabloidnya. Lalu demonstrasi demi demonstrasi terjadi. Tak kurang cendekiawan muslim yang tengah naik daun saat itu, Nurcholis Madjid, ikut urun suara menghujat.

Di tengah segala keributan, esai Gus Dur terkait kasus itu terbit di majalah Editor. Judulnya “Kasus Gila dan Gila Kasus”. Seperti biasa, pendapat Gus Dur kontroversial. Ia dituduh tidak sensitif keislamannya, tidak pro kepentingan umat Islam. Seperti biasa juga, Gus Dur anteng-anteng saja.

Sebetulnya tulisan Gus Dur itu sangat jelas dan jernih melihat masalah. Ia menyebut poling tabloidnya Arswendo tak jelas metodologinya. Apa pentingnya poling itu lebih tak jelas lagi. Makanya Gus Dur menyebut poling itu sebagai kegilaan, orang-orang yang terlibat di dalamnya orang gila, kasusnya ya kasus gila. Tapi yang paling gila adalah bagian yang mempersoalkan kasus itu sampai jadi kegegeran nasional. Gus Dur menyebut kelompok ini gila kasus.

Gus Dur seperti ingin mengingatkan bahwa poling itu tidak penting, yang menyelenggarakan juga tabloid dan orang-orang tak penting. Kalau sampai banyak kelompok yang merasa tersinggung ya mereka sama saja menjatuhkan derajatnya menjadi tak penting juga.

Baca  Gus Dur dan humornya

Tapi seperti yang kita lihat sehari-hari, orang Indonesia memang lebih senang komentar ketimbang membaca, lebih senang mulutnya berbunyi ketimbang kupingnya mendengar, lebih senang sensasinya daripada kejelasan duduk perkaranya.

Kontroversi lain? Masih ingat dengan gosip Gus Dur bilang Alquran kitab paling porno? Kalau mau mendengar sebentar saja ucapan aslinya, hanya orang gila fitnah yang percaya gosip itu benar. Tapi Gus Dur menghadapi semua hujatan dengan santai dan tak sekalipun mengeluh merasa difitnah.

Bukan cuma pernyataan, tindakan Gus Dur pun kerap kontroversial. Banyak orang menyebutnya antek zionis gara-gara konon ia akrab dengan orang-orang Israel, negara pelaku kekejaman kepada Palestina. Padahal dia memilih begitu karena tahu dalam konflik Israel-Palestina, Israellah pihak yang kuat. Karenanya kalau ada pihak yang mesti dibujuk buat berhenti perang, justru pihak Israel yang mesti dibujuk duluan.

Seorang wartawan yang mantan ajudan Gus Dur pernah berkata,”kalau saja orang-orang tahu apa yang Gus Dur kampanyekan pada tokoh-tokoh Israel; kalau saja orang-orang tahu bagaimana Gus Dur bikin forum tokoh-tokoh Israel ternganga saat mendengar cerita kekejaman pemerintah Israel pada penduduk Palestina…”. Wartawan itu menarik nafas panjang lalu mengembus keras, “tapi ya begitulah Gus Dur. Dia enggak pernah peduli orang mau bilang apa, enggak berminat buat pamer sana-sini, enggak pernah terganggu dengan fitnah dari segala penjuru”.

Di paruh awal dekade 1980-an Gus Dur pernah menulis esai dengan judul menggelitik, “Islam Kaset dan Kebisingannya”. Isinya mengkritik kebiasaan menyetel kaset tartil (pembacaan) Alquran di masjid-masjid, terutama di waktu subuh. Sementara kaset berbunyi lewat pengeras suara, Alquran tetap tak terbuka dan orang-orangnya sendiri tidur diiringi suara ngaji dari kaset.

Saya bayangkan misalkan tulisan itu, dengan judul yang sama, terbit di hari-hari ini…tak terbayangkan berapa juta “kafir” yang sudah disematkan orang buat Gus Dur.

Related Post

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.