EsaiHumorTokoh

Gus Dur dan humornya

Gus Dur, Gus Dur dan humornya Posted On
Posted By Ahmad Makki

Tahun 1986 di Indonesia terbit sebuah buku terjemahan berisi kumpulan humor era perang dingin di Rusia. Judulnya Mati Ketawa cara Rusia. Begitu terbit buku ini menjadi sensasi. Istilah “mati ketawa” sempat sangat populer di negeri ini.

Salah satu yang selalu diingat orang dari buku ini adalah pengantarnya yang ditulis oleh Gus Dur. Di sini sang kiai menjelaskan seluk-beluk humor; mulai dari filsafat humor, fungsi humor, sosiologi humor, politik humor, penguasaannya pada khazanah humor berbagai bangsa, sampai beberapa koleksi humor yang malah lebih jenaka dari stok humor dalam buku.

Dari pengantar ini pula lahir kelakar Gus Dur yang populer di kalangan para pencinta buku, “orang yang meminjamkan buku adalah orang bodoh, tetapi mengembalikan buku pinjaman adalah perbuatan orang gila”.

Pengantar Gus Dur menjadi penting karena jarang sekali ada tulisan yang membahas humor dengan serius, tapi tetap enak dibaca. Sampai kini pengantar pendek itu menjadi semacam landasan teori humor yang belum ada tandingannya di Indonesia.

Jauh sebelum pengantar itu ditulis, Gus Dur memang sudah dikenal sebagai seorang jenaka. Mustahil memisahkan pria satu ini dari humor. Anda tinggal gugling “humor Gus Dur” dan akan menemukan hamparan luas koleksi humor yang bersumber dari satu orang. Mahbub Djunaidi, kolumnis yang sesama tokoh NU dan pernah jadi rekan dan lawan politik Gus Dur, menyebut kelakar pria tambun berkacamata itu tak habis-habis, seolah koleksi humornya tinggal dijambret dari laci.

Gus Dur bisa berkelakar kapan saja dia mau. Bahkan di saat-saat kritis. Mohammad Sobari, kolumnis dan kawan kentalnya pernah bercerita kejadiaan saat Gus Dur baru dioperasi karena usus buntu. Beberapa pembesuk diperingatkan keras oleh dokter agar jangan sampai membuat si pasien tertawa, lantaran jahitannya masih basah.

Para pembesuk masuk dengan nuansa ketegangan, takut bikin ketawa. Tak disangka di dalam ruangan justru Gus Dur yang langsung “bikin onar” dengan kelakarnya. Semua orang tak bisa menahan ketawa, termasuk Gus Dur yang ketawa sampai perutnya berguncang-guncang. Jahitannya pun berdarah.

Ketika menjadi presiden, ia berkali-kali bikin pemimpin negara lain terbahak habis-habisan. Pernah ia mengocok perut seisi ruangan parlemen Jerman. Kala itu ia di tengah presentasinya ia menyelipkan sebuah kelakar brilian.

Baca  Mengingat ulang Gus Dur

Kisahnya tentang seorang Yahudi beranak tiga yang berkeluh kesah pada Tuhan, tentang ketiga anaknya yang dianggapnya kurang relijius. Salah satunya malah meninggalkan iman Yahudi. Keluhannya ternyata dijawab Tuhan.

“Kamu itu kurang bersyukur,” tegur Tuhan kepada si Yahudi. “Kamu punya anak tiga, murtad satu aja pusing. Lah saya malah anak satu-satunya, Yesus, masuk Kristen.”

Ketika berkunjung ke Saudi Arabia, ia bikin raja setempat ketawa sampai terlihat giginya. Konon itu pertama kali dalam sejarah sang raja tertawa lebar di depan umum. Di Amerika, ia bikin ngakak Bill Clinton, presiden Amerika kala itu, dengan humor yang sangat Amerika dan Clinton sendiri belum pernah dengar. Di Inggris, sebuah universitas sampai membuat lembaga studi yang mempelajari humor-humor Gus Dur.

Dengan Fidel Castro, pemimpin Kuba, ia punya kisah sendiri. Di sesi istirahat sebuah forum internasional, Fidel Castro yang sudah lama mendengar nama Gus Dur mendadak mengunjunginya tanpa pemberitahuan.

Gus Dur yang tengah bercelana pendek tergopoh-gopoh minta diambilkan celana, tapi Castro minta ia santai saja. Castro hanya ingin bertemu santai dan pribadi karena mengagumi nama Gus Dur.

Demi memecahkan ketegangan, Gus Dur langsung melancarkan jurus andalannya, kelakar. Ceritanya tentang sahabat seperjuangan Fidel Castro, Che Guevara.

Suatu masa, di penjara Kuba ada tiga orang yang ditahan di satu ruang bersama. Orang pertama mencoba membuka pembicaraan dengan dua teman kamarnya.

Latar belakang humor ini adalah era perubahan politik Kuba, di mana sebelum revolusi nama Che Guevara sangat dibenci pemerintah dan Che Guevara berbalik jadi pahlawan nasional begitu revolusi terjadi.

“Apa kesalahan kalian hingga dimasukkan ke sel ini?”

“Aku dulu ditangkap karena memuja Che Guevara,” kata orang kedua.

“Kalau aku belum lama dijebloskan ke sini lantaran membenci Che Guevara,” kata orang ketiga.

“Kamu sendiri, apa kesalahanmu?”

“Aku dipenjara karena aku ini Che Guevara,” kata orang pertama.

Selain humoris Gus Dur juga bisa iseng kepada teman-temannya. Di masa Orde Baru, ia membentuk forum bersama bernama Forum Demokrasi yang sukses bikin Soeharto enggak enak tidur. Marsillam Simandjuntak adalah salah satu anggota forum yang dikenal berotak encer tapi orangnya sangat serius.

Baca  Gus Dur dan perbedaan

“Marsilam, pemeritah baru saja menerbitkan uang Rp. 500 bergambar Ibu Tien Soeharto,” katanya kepada Marsilam yang menerima berita ini dengan kaget. Tien Soeharto di kalangan pengkritik Soeharto memang seperti simbol penyelewengan kekuasaan Soeharto, karena istri Soeharto inilah yang ditengarai punya pengaruh kuat terhadap praktik bisnis keluarga Cendana yang banyak menunggangi fasilitas negara.

“Masak sih Gus? Bukannya Rp. 500 yang baru gambarnya kera? kata Marsillam tak percaya.

“Loh enggak percaya. Coba aja kamu cari”.

“Beneran, Gus?”

“Makanya coba cari sana sampai ketemu”.

Konon selama beberapa hari kemudian Marsillam menanyai semua orang yang dia kenal soal uang bergambar Tien Soeharto, dan sudah barang tentu enggak ketemu.

Sewaktu muda Gus Dur pernah kuliah di Baghdad, Irak. Menurut Duta Besar Irak untuk Indonesia, namanya populer di sana. Salah satu anekdot Gus Dur yang diletahui banyak warga Baghdad adalah kisah nyata soal kepala ikan

Kisah ini betul-betul terjadi ketika Gus Dur masih ngontrak di Baghdad bersama sembilan mahasiswa yang sama-sama dari Indonesia. Para penghuni menyusun jadwal piket harian untuk mengurusi soal makan dan kebersihan kontrakan.

Saban giliran Gus Dur piket, makanan yang disajikan selalu mewah untuk ukuran mahasiswa rantau, yakni kepala ikan. Meski penasaran, teman-temannya baru menyelidik ketika ada rencana kunjungan rombongan tamu istimewa ke kontrakan itu. Rencananya menu itu akan dimasak saat kedatangan rombongan tamu.

Pria bernama asli Abdurrahman Wahid ini menunjukkan pada salah satu rumah makan di kota Baghdad. Teman-temannya menurut dan kaget begitu tahu mereka tak perlu membayar untuk semua kepala ikan yang mereka ambil.

“Di sini orang tidak makan kepala ikan. Kami biasa membuangnya,” kata pemilik rumah makan.

“Eh ngomong-ngomong kalian mahasiswa Indonesia kan?” tanya pemilik rumah makan yang diiyakan teman-teman Gus Dur.

“Iya teman kalian juga yang orangnya gemuk berkacamata juga sering ke sini mengangkut kepala ikan. Katanya untuk 10 anjing peliharaannya di kontrakan”.

Related Post

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.