BukuEsai

Gerak-Gerik: matinya sebuah toko buku

toko buku, Gerak-Gerik: matinya sebuah toko buku Posted On
Posted By Ahmad Makki

“Gua pengen meneladani para pedagang Cina. Harga murah, untung sedikit, pemasukan lancar.” kata lelaki tinggi besar itu. Saya mengangguk setuju. “Harga murah juga berarti gua beramal buat mahasiswa,” imbuhnya.

Lelaki itu Ikhwan Nasution. Panggilannya Tion. Seorang kawan berdarah Batak pernah berkata, ini kali pertama ia ketemu orang Batak yang berani memapas nama marganya dengan sengaja.

Tapi bukan lantaran itu Tion terkenal di kalangan pemburu buku sekitar UIN Jakarta. Ia juragan toko buku -ia menyebutnya bengkel buku- Gerak-gerik, yang mayoritas dagangannya adalah buku tua.

Ketika Tion mengucapkan kalimat di atas, saya merasakan optimisme dan keteguhan. Ia menyelundup kesana-kemari demi mengendus jejak buku-buku tua. Kerja keras ini sempat membuat foto dan profilnya nampang di rubrik Sosok harian Kompas.

Dan sekitar lima tahun setelah kalimat itu, Tion menutup Gerak-Gerik karena sepi pembeli.

BUKAN koleksinya yang pertama kali membuat saya tertarik dengan toko buku Gerak-Gerik. Sebab ketika tengah melewati mulut gang kecil itu, sekira paruh awal dekade 2000-an, saya belum tahu di sana dibuka toko buku baru.

Adalah sosok sastrawan Danarto yang mengundang mata saya. Legendaris yang wajahnya hanya pernah saya lihat di media massa dan halaman akhir beberapa buku ini, tengah membaca sambil menghadapi puluhan buku tertumpuk rapi.

Saya menghampiri, menyalami sambil sedikit berbasa-basi, lalu menyelidik barang jualan toko buku tersebut. Kala itu koleksinya masih buku-buku baru.

Beberapa kali berkunjung, saya berkesempatan mengobrol dengan Tion. Ia mengaku koleksinya tak baru-baru amat. Hanya buku-buku baru dengan angka penjualan lumayan yang dipajangnya. Itu pun tema-tema tertentu, seperti filsafat, sastra, budaya, sejarah dan sejenisnya. Buku-buku lainnya ia baru datangkan setelah beberapa bulan diterbitkan.

“Buku-buku bagus dan serius biasanya enggak laku. Beberapa bulan terbit lalu menumpuk di gudang,” katanya. Ia lalu membujuk para penerbit agar menekan harga, dengan jaminan angka penjualan sekian. Pertaruhan kredibilitas sebagai pedagang, ia menyebutnya. “Gua yakin di UIN (Jakarta) pasar buku-buku beginian masih lumayan”.

Beberapa bulan kemudian Gerak-gerik pindah tak jauh dari tempat semula. Lebih strategis dan lebih luas. Buku-buku tua mulai dipajang, dan kian lama kian fokus ke segmen ini. Tion pun makin edan pasang harga. Kumpulan cerpen legendaris Idrus, Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma saya gondol pulang dengan harga lima ribu perak. Novel klasik Dr. Zhivago yang diterjemahkan Trisno Sumardjo, di sebuah bazar buku lama dibandrol 300 ribu. Wajar mengingat reputasinya, kata saya. Tapi di Gerak-gerik buku itu bisa dibawa pulang dengan harga 50 ribu. Yang berbahasa Inggris harganya lebih jeblok lagi.

Baca  Tiga buku Mahbub Djunaidi

Makin lama buku-buku tua kian menjejali Gerak-gerik. Bobot kualitasnya kian canggih, temanya tambah beragam. Ini cocok betul dengan selera intelektual saya yang urakan dan kurang bertanggung jawab. Tiap punya duit barang 50-100 ribu, saya bergegas mampir dan menghabiskannya selekas pecandu judi kurang siasat. Toko ini sebenarnya menyediakan kantong plastik, tapi saban membeli lebih dari tiga buku, saya cuma minta diikatkan lalu menentengnya dengan gaya berlebih-lebihan, di sepanjang jalan yang dilalui ribuan mahasiswa.

Ide Tion berkutat di buku-buku tua mendapat sambutan hangat, terutama ketika stok baru buku-buku tua tiba. Tempat ini jadi semacam ruang rekreasi para pecandu buku. Dengan kian ramainya Gerak-gerik, Tion tak hanya berperan sebagai juragan. Ia juga kerap membantu melayani, tapi lebih sering jadi katalog buku. Memberi keterangan ringkas, menunjukkan buku-buku yang berhubungan, atau merekomendasi.

Tion juga bisa menjadi pedagang yang nyentrik. Jika ada yang bertanya buku-buku teks kuliah, dengan ketus ia menjawab, “maaf, enggak jual yang begituan.”

Mereka yang bokek bisa datang dengan nyaman, menunjuk beberapa buku yang diinginkan agar disimpan dan tak dibeli orang lain. Seminggu atau dua mereka datang lagi menyetor duit dan ambil buku.

Saya juga menikmati fasilitas ini. Tapi saya punya kelemahan yang membuat enggan memanfaatkannya terlalu sering. Saban main ke toko buku dalam kondisi kantong kempes, kepala saya kerap pening, jantung berdebar-debar, kaki lemas dan keringat menitik deras. Malamnya saya sukar tidur membayangkan buku incaran saya dijamah orang.

GERAK-GERIK bagi saya bukan sekadar toko buku.

Secara personal, tempat itu seperti peta penunjuk untuk menemukan wilayah-wilayah baru yang ikut membentuk diri saya.

Para sastrawan seperti Gabriel Garcia Marquez, Camilo Jose Cela, Herman Hesse, Knut Hamsun, Lu Hsun. Idrus dan John Steinbeck; esais dan kritikus macam Mahbub Djunaidi, Dami N. Toda dan HB. Jassin; bahkan para pembahas sepakbola seperti Franklin Foer, Simon Kuper dan Stefan Szymanski. Tanpa Gerak-gerik, nama-nama di atas mungkin hanya bisa saya baca di Wikipedia sambil mengira keagungan karya mereka. Saya tak bisa membayangkan hidup tanpa pengalaman spiritual yang saya rasakan saat dihanyutkan karya mereka.

Baca  Menagih suara ulama dalam persoalan kekerasan seksual

Selain itu, Gerak-gerik adalah saksi perubahan sosial di sekitar UIN Jakarta. Saya memulai kuliah di kampus itu ketika forum-forum kajian tengah jadi primadona. Saat itu sulit dipercaya anda telah tiga bulan kuliah di sana, tanpa mampu menunjukkan tempat-tempat kajian ternama di Ciputat.

Para jamaah forum-forum studi inilah yang menjadi konstituen setia tempat-tempat semacam Gerak-gerik. Mereka yang menganggap forum studi sama pentingnya dengan ruang kuliah ini, secara regular menjadikan toko-toko buku sebagai taman bermain.

Memasuki paruh kedua dekade 2000-an, UIN Jakarta mengalami banyak perubahan. Para mahasiswa kian disibukkan dengan tugas kuliah. Saya mengingat dengan jelas proses bergantinya buku-buku bacaan di tangan mahasiswa menjadi buku teks kuliah. Saya bahkan bisa mengingat mahasiswa terakhir yang setia membawa buku bacaan kala tengah nongkrong.

Perubahan ini ikut dirasakan toko-toko buku. Perlahan-lahan mereka menyingkirkan bermacam buku dari rak-raknya, menggantinya dengan sebatas buku teks. Tapi Gerak-gerik tetap keras kepala.

Di saat-saat seperti itulah, sekitar lima tahun lalu, Tion menyatakan ingin meneladani para pedagang Cina, setelah sebelumnya mengeluhkan kian minimnya mahasiswa yang mendatangi Gerak-Gerik.

“Hitung jumlah toko buku (di sekitar) yang masih bertahan. Itu indikator minat baca mahasiswa UIN”. Saya bisa mengingat keberadaan sekitar 17 toko buku di radius 1 km di sekeliling UIN Jakarta. Saat ini yang tersisa tinggal lima. Jika Tion benar, setidaknya masih ada Komaruddin Hidayat, rektor UIN, yang masih percaya lembaganya sebagai world class university.

SETELAH obrolan tersebut, kami tak lagi punya kesempatan berbicara secara pribadi, hingga mendadak seorang kawan menyampaikan kabar tutupnya Gerak-gerik.

Kali pertama mendengarnya, saya melengak kaget. Baru berjam-jam kemudian saya betul-betul menyadari bagian apa yang telah hilang dari kehidupan saya dan teman-teman yang berselera sama.

Kini setelah Gerak-gerik tiada, saya jadi sadar betapa sedikit buku yang telah saya baca.

Related Post

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.