Posted On
FilmResensi

“Ordinary People”: Sampai maut memisahkan…

Posted By Ahmad Makki

Banyak kritikus menyayangkan lepasnya anugerah Best Picture Academy Award tahun 1980 dari Ragging Bull. Tapi Ordinary People memang bukan lawan sembarangan. Film yang disutradarai aktor kawakan Robert Redford ini menghadirkan pemeran Donald Sutherland, Mary Tyler Moore, Timothy Hutton. Ordinary People mengisahkan tentang keluarga kecil yang pernah mengalami trauma kematian anak tertua mereka. Cerita dimulai dengan […]

read more
Posted On
FilmResensi

“District 9”: Sosiologi Kehidupan Alien-Manusia

Posted By Ahmad Makki

Eksistensi alien sudah jadi topik yang banyak diangkat dalam film-film Hollywood sejak puluhan tahun lalu. Mulai dari menampilkan alien layaknya musuh ganas menakutkan (Alien, Predator), sampai yang menggambarkannya sekadar misteri tanpa embel-embel keganasan (Roswel, K-Pax). Namun saya kira tema spesifik seperti disorot Distric 9 ini bisa dibilang masih langka; corak sosiologis kehidupan bersama manusia dan […]

read more
Posted On
BukuEsai

Gerak-Gerik: matinya sebuah toko buku

Posted By Ahmad Makki

“Gua pengen meneladani para pedagang Cina. Harga murah, untung sedikit, pemasukan lancar.” kata lelaki tinggi besar itu. Saya mengangguk setuju. “Harga murah juga berarti gua beramal buat mahasiswa,” imbuhnya. Lelaki itu Ikhwan Nasution. Panggilannya Tion. Seorang kawan berdarah Batak pernah berkata, ini kali pertama ia ketemu orang Batak yang berani memapas nama marganya dengan sengaja. […]

read more
Posted On
FilmResensi

“No Country for Old Men”: Puisi Buram untuk Hari Tua

Posted By Ahmad Makki

Dalam bentuk idealnya, puisi adalah rentetan kata yang menghasilkan imaji tentang fragmen tertentu. Jika satu kata saja dikurang atau ditambahi, maka puisi itu akan lain artinya. Lalu seperti apakah jadinya jika puisi difilmkan? Jadilah No Country for Old Men! Jika dianalogi dengan puisi, adegan-adegan yang disusun oleh Coen bersaudara di film ini laiknya susunan kata-kata […]

read more
Posted On
BukuEsai

Hidup saya sejak membaca “Dataran Tortilla”

Posted By Ahmad Makki

Bertahun-tahun lalu, ketika masih mahasiswa, saya sempat tinggal di kos yang lumayan luas, namun terlihat mau ambruk. Temboknya dekil dan retak di sana-sini. Kusen-kusennya rusak diserbu rayap. Di kamar depan, papan langit-langitnya ambrol entah sejak kapan. Dugaan saya, para nyamuk pun sedikit tersinggung, lantaran mereka bebas keluar masuk tanpa kami beri tantangan berarti. Tapi jangan […]

read more