QuoraSepakbola

Apa pendapatmu tentang kebijakan transfer baru Manchester United yang dicetuskan oleh Mike Phelan untuk merekrut banyak pemain muda?

Mike Phelan, Apa pendapatmu tentang kebijakan transfer baru Manchester United yang dicetuskan oleh Mike Phelan untuk merekrut banyak pemain muda? Posted On
Posted By Ahmad Makki

Terlepas setuju atau tidak dengan pernyatan Mike Phelan, strategi transfer sendiri bisa bermacam-macam dan menyesuaikan dengan kebutuhan.

Ada klub seperti Ajax yang fokus mencari pemain berusia remaja untuk dibina dan dijual ke klub besar ketika mulai sukses. Ajax sadar mereka ga mungkin berkompetisi dengan klub elite Eropa dalam hal keuangan. Strategi ini cocok dengan mereka. Risikonya, enggak setiap musim bisa kompetitif.

Ada yang model Real Madrid dengan proyek Galacticos. Mereka ingin secara konsisten setiap musim menjadi tim unggulan di Eropa, karenanya perlu pasokan pemain-pemain terbaik. Risikonya, perlu ongkos gigantik untuk mewujudkan proyek semacam ini. Tapi kalau sukses efek finansialnya juga lebih besar.

Dalam kasus Manchester United, strategi transfer pemain bintang sudah dicoba selama masa kepemimpinan Ed Woodward dan gagal total. Efeknya, prestasi buruk, struktur budget gaji klub amburadul, sulit menemukan kohesi tim. Memang kegagalan ini juga disebabkan pengetahuan Woodward yang minim soal pasar dan penilaian kualitas pemain. Setelah beberapa musim tanpa hasil sepadan, wajar kalau klub mencoba strategi berbeda.

Kondisi skuad United sekarang kacau balau. sebagai asisten manajer, Mike Phelan tahu betul itu. Kalau mau jujur, setiap posisi punya masalahnya masing-masing. Selama beberapa musim terakhir tidak ada bayangan kerangka tim yang jelas, siapa pemain kunci di masing-masing lini. Tingkat konsistensi penampilan tiap pemain rendah. Padahal duit yang disebar buat membeli dan menggaji pemain luar biasa besarnya.

Kalau mau bicara rencana jangka panjang melampaui satu musim, skuad memang mesti dibongkar ulang. Anggap semua pemain tersisa harus membuktikan kemampuannya masing-masing mulai dari nol lagi. Dari sini tentukan mana posisi yang mesti diperkuat.

Untuk jangka panjang begini, strategi merekrut pemain muda seperti dikatakan Mike Phelan memang cocok untuk diprioritaskan. Mereka masih proses berkembang, haus prestasi dan pembuktian diri. Sambil berproses untuk saling menyatukan diri, tim dan setiap individu akan dan saling mempengaruhi.

Baca  Catatan untuk kemenangan Portugal di Final Euro 2016

Tinggal kejelian pelatih mengidentifikasi dan menentukan potensi apa saja yang cocok untuk dikembangkan sebagai basis taktik permainan tim. Setiap pemain berkompetisi, berusaha menjadi pemain kunci di posisi masing-masing. Dari sinilah stabilitas tim dibangun.

Ketika tim stabil dan siap bersaing dengan level elite, di sinilah tambahan pemain matang atau bintang diperlukan. Selain menutupi celah di masing-masing pos, juga memberikan faktor penentu permainan dan figur yang jadi tempat belajarnya pemain muda.

Proses seperti ini butuh waktu dan kesabaran. Pelatih dan manajemen yang jeli bisa mempersingkat prosesnya, meski tetap tidak instan. Contoh terdekat adalah Liverpool dan Jurgen Klopp. Kedatangan pelatih asal Jerman ini mengakselerasi waktu berprosesnya Liverpool. Hebatnya, dia bisa meyakinkan manajemen untuk mengikuti strategi transfernya.

Klopp sendiri mengetahui level persaingan Liga Inggris, mau rendah hati untuk bersikap lebih fleksibel tentang prinsipnya yang punya kebiasaan lebih suka mendidik pemain muda. Ia tahu kalau cuma menunggu perkembangan pemain muda terlalu lama waktu untuk mengejar klub lain. Untuk itu perlu faktor pemain bintang untuk menggeber gas mesin pacu Liverpool.

Belum ada sejarahnya Liverpool berani beli kiper mahal. Tapi ketika akhirnya “nekat” membeli Alisson Becker, klub itu langsung sadar kesalahan mereka selama belasan tahun yang tidak pernah serius berinvestasi di posisi kiper. Padahal ini posisi yang menentukan.

Jadi dalam fase merehab tim seperti United sekarang, strategi merekrut pemain muda memang paling masuk akal. Di tengah jalan nanti strategi ini bisa saja berubah atau dikombinasi dengan pendekatan lain sesuai kebutuhan.

Tapi perlu diingat juga konteks sepakbola saat ini sudah jauh berubah ketimbang era dominasi Sir Alex Ferguson dekade 1990-an sampai 2000–an.

Baca  Antonio Conte

Dulu Madrid jadi satu-satunya tim yang siap menyiram duit kapan saja untuk membeli bintang yang mereka mau. Sekarang klub banjir duit semacam ini sudah banyak. Madrid saja diam-diam sudah minder dengan kekuatan fulus tim-tim Liga Inggris.

Dengan kondisi begitu, pada level tertentu setiap klub yang mau bersaing di level tertinggi pasti akan dipaksa fleksibel untuk berinvestasi besar untuk pemain bintang.

Ambil contoh Barcelona yang punya akademi La Masia dan pernah menurunkan 11 pemain utama yang semuanya berasal dari akademi. Tapi agresivitas Madrid di bursa transfer akhirnya memaksa Barca lebih fleksibel membeli pemain mahal. Sebab strategi mengembangkan pemain butuh waktu, tidak akan sanggup mengejar kecepatan membeli pemain jadi.

Sedangkan di Inggris saat ini bukan cuma dua klub yang sanggup adu isi brankas, makanya persaingannya lebih kompetitif.

Intinya saat ini susah bagi setiap klub elite untuk tetap idealis dengan strategi pengembangan pemain muda. Kecuali kalau mau sadar diri seperti Ajax. Akan tiba waktunya klub “terpaksa” membeli bintang untuk tetap menjaga jarak dengan rival. Momen-momen begitu sangat bergantung dengan kejelian dan fleksibilitas pelatih dan manajemen, menentukan kapan waktunya pemain muda, kapan waktunya pemain bintang,

Kasus Klopp di atas menjadi contoh segar tentang hasil dari sikap fleksibel. Sementara kasus Arsene Wenger pada periode akhirnya di Arsenal, menjadi contoh hasil sikap menolak bersikap fleksibel (meskipun sikap Wenger itu juga dipengaruhi pelitnya direksi Arsenal).

Sumber: Quora

Related Post

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.