SepakbolaTokoh

Antonio Conte

Antonio Conte, Antonio Conte Posted On
Posted By Ahmad Makki

“Jika waktu bisa diputar ulang,” kata mantan pemain Juventus Andrea Pirlo dalam otobiografinya, “satu-satunya hal yang akan saya ubah selama di Juventus adalah posisi duduk di ruang ganti”.

Ketika datang ke Juventus Pirlo memilih posisi duduk tersebut lantaran ingin bersebelahan dengan kawan lamanya, Gianluigi Buffon. Persoalannya, tak ada tanda apa pun sebelumnya yang menjadi petunjuk kalau tembok di atas kepalanya adalah titik langganan pelatih Antonio Conte melempar botol air minum saban mengamuk.

Conte memang dikenal sebagai sosok yang tak segan mengekspresikan emosinya. Di sisi lapangan hijau sosoknya cukup mencolok. Ia tak capek-capeknya berteriak geram hanya lantaran melihat pemainnya melakukan kesalahan-kesalahan kecil. Pada Piala Eropa 2016 lalu, saya ingat dia mengamuk sambil menendang bola dengan keras melihat Eder gagal mengontrol bola pantulan dari Graziano Pelle di daerah pertahanan Spanyol. Padahal waktu itu Italia tengah unggul dari Spanyol.

Kontras dengan sikapnya yang kerap meledak-ledak, sorot mata Conte selalu terkesan dingin. Saya membayangkan setiap orang yang beradu pandang dengan Conte bakal merasa seperti mendadak dibukakan pintu kulkas di depan wajahnya.

Antonio Conte seorang perfeksionis pilih tanding. Ia menganalisis segala detail penampilan pemainnya. “Kau bisa merasa tampil baik dalam satu pertandingan. Tapi Conte akan selalu menemukan celah untuk perbaikan. Ia tak pernah puas,” kata Pirlo.

Juventus, Italia, Chelsea, tim-tim besar yang dilatih Conte selalu tampil dengan energi yang besar. Saban pria Italia ini berteriak para pemain seperti mendapat suntikan tenaga baru, mengejar lawannya seolah masing-masing punya dendam pribadi. Ia memulai semuanya dari ruang ganti. Bukan dengan lemparan botol, bentakan, atau tatapan yang membekukan, melainkan kata-kata.

Baca  Kopi: Dari Kolschitzky sampai ke Lionel Messi

“Conte seperti menyimpan api yang mengalir di urat-urat tubuhnya,” kata Pirlo. “Ia hanya butuh sekali bicara dan beberapa kata-kata sederhana untuk mengambil hatiku dan seisi Juventus”.

Ketika Conte bicara semua orang mendengarkan dan setuju. Karena itu, menurut kapten Italia Leonardo Bonucci, para pemain tim nasional negeri pizza itu memanggil Conte sebagai “The Godfather”. Panggilan ini merujuk pada karakter Don Vito Corleone dalam novel dan film The Godfather.

Kualitas seperti itu yang membantu Conte berhasil melewati masa-masa sulit sebelumnya. Di Juventus ia juara dan mencatat rekor tak terkalahkan dengan mewarisi tim yang dua kali mengakhiri kompetisi sebelumnya di posisi ketujuh. Di Piala Eropa 2016 ia banjir pujian atas kiprah Italia yang stok pemainnya sangat biasa.

Pelatih dengan reputasi sekelas Conte pasti punya kecakapan menyusun taktik yang hebat. Tapi tak semua pelatih hebat pernah dan mau menguji diri dalam kondisi terbatas seperti dilakukan Conte.

Jika di akhir musim nanti Chelsea menjadi juara, orang mesti memutar lagi ingatan ke bulan Agustus 2016 ketika musim kompetisi baru dibuka. Saat itu Conte kehilangan semua pemain yang menjadi target utamanya kecuali N’Golo Kante. Pers disibukkan dengan rekor belanja Manchester United dan transfer-transfer besar Manchester City. Sementara Conte mengubah pemain “buangan” seperti Victor Moses menjadi salah satu simbol kerja keras Chelsea.

Dalam kondisi serba terbatas seperti itulah Conte bisa dipahami secara utuh.

Related Post

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.