Esai

Agama dan logika film hantu

agama, Agama dan logika film hantu Posted On
Posted By Ahmad Makki

Sumber: Bincang Syariah

BincangSyariah.Com – Teman saya pernah bercerita tentang pesisir pantai di kampung halamannya yang biasa sepi, berubah ramai sejak menjadi tujuan wisatawan dari berbagai daerah lain. Seiring perubahan, muncul hal-hal baru yang tidak pernah terjadi. Mulai sering terlihat orang menenggak minuman keras, atau pasangan muda-mudi yang asyik bercumbu bebas di sekitar pantai.

Penduduk setempat yang pada umumnya relijius, resah melihat hal-hal yang berkategori maksiat dalam pandangan agama, mulai jadi pemandangan biasa. Para pemuka agama dan tokoh masyarakat berkumpul dan merumuskan solusi ajaib, menambah speaker masjid di area pantai, agar suara aktivitas keagamaan terdengar sampai di sana.

Harapannya agar para pelaku maksiat yang mendengar tergugah hatinya dan tobat dari segala perkara dosa.

Teman lain bercerita tentang rapat masjid di lingkungannya jelang bulan Puasa, yang secara aklamasi menyepakati kegiatan tadarus rutin setelah tarawih.

Persoalannya, mayoritas penduduk setempat tingkat kemampuan membaca Qurannya minim. Sementara sebagian yang mampu terhalang kesibukan masing-masing.

Jalan keluar yang diambil tidak kalah ajaib dengan kasus pertama. Diputuskan untuk menyetel kaset pembacaan Quran secara rutin setelah tarawih, disiarkan lewat speaker masjid. Dengan begitu niat menggiatkan syiar agama selama bulan Puasa impas sudah. Sebagai bonus, siapa tahu satu atau dua orang penyimak mendadak kepingin belajar membaca Quran.

Pada dua kasus di atas, hasilnya gampang ditebak. Suara speaker masjid dan aktivitas maksiat sama-sama tetap berjalan dengan caranya masing-masing. Sedang persoalan minimnya kemampuan membaca Quran tetap lestari.

Kedua kasus tersebut memberi gambaran bagaimana agama diimplementasikan dengan cara instan dan hanya menyentuh permukaan, tidak menyentuh sampai ke akar persoalan. Lain yang gatal, lain yang digaruk. Modus serupa mudah ditemukan pada representasi agama dalam logika film-film hantu produksi Indonesia.

Baca  Fenomena Sugi Nur: potret nyata manipulasi sentimen agama

Pada umumnya representasi agama dalam film-film hantu hadir dalam sosok ulama, lengkap dengan stereotipe pakaian, aksesori keagamaan, serta kutipan satu ayat atau dua. Kemunculannya membuat beragam masalah selesai dengan cara-cara ajaib. Agama diperlakukan seperti jimat; bertuah, serbaguna dan cara kerjanya tidak perlu dijelaskan nalar. Tidak penting lagi penjelasan logis dan hukum sebab-akibat.

Model logika film hantu yang instan dan banal tidak sulit ditemukan dalam praktik keberagamaan kita sehari-hari. Aktivitas penggerebekan tempat-tempat yang dianggap sarang maksiat, adu volume speaker masjid, pamer kekuatan dalam menghadapi perbedaan pendapat, memaksakan kehendak kepada kelompok minoritas, adalah simtom dari logika instan. Yang diutamakan adalah seremoni, kuantitas dan simbol-simbol belaka.

Kecenderungan tersebut bukan gejala baru dalam masyarakat kita. Pada tahun 1940, lewat esai Masyarakat Onta dan Masyarakat Kapal Udara, Sukarno mengkritik tendensi keberagamaan yang mengutamakan “abu Islam” dan melupakan “api Islam. “Abu Islam” adalah simbol-simbol dan seremoni keagamaan lahiriah. Sedang “api Islam” adalah inti ajaran Nabi Muhammad Saw. yang ditandai semangat kemajuan dan keterbukaan.

Semangat “api Islam”, di antaranya pernah ditunjukkan kelompok agamawan pada era perjuangan kemerdekaan Indonesia. Kelompok ulama berjuang bersama para elite politik nasionalis, sambil menerjemahkan gagasan nasionalisme dan kemerdekaan ke dalam kosakata dan alam pikiran kelompok santri dan masyarakat pedesaan.

Antropolog Clifford Greetz menyebut peran tersebut sebagai “pemerantara budaya” (cultural broker), jembatan antara dunia modern dengan budaya tradisional, yang berperan besar dalam terwujudnya kemerdekaan Indonesia. Mereka berjuang dengan semangat terbuka; bukan hanya untuk kepentingan golongan, tapi untuk segenap rakyat Indonesia yang majemuk.

Melupakan semangat kemajuan dan keterbukaan dalam doktrin agama, melahirkan sikap keberagamaan yang tertutup. Saat gagap menghadapi persoalan sosial yang kompleks, doktrin agama kerap dilokalisasi melulu dalam ruang lingkup fiqh; halal dan haram, pahala dan dosa. Dengan pendekatan begini, tidak heran kalau kekuatan sosial agama sering gagap mengambil peran dalam masalah-masalah sosial yang nyata.

Baca  Hanum Rais dalam berita Kumparan: kritik atas praktik pemilihan narasumber

Seremoni dan simbol-simbol agama yang semarak tidak menghalangi persoalan kriminalitas, kemiskinan, sampah, politik kebencian, penyerobotan tanah di antara sesama warga dan lain sebagainya. Religiusitas selalu dianggap sebagai aspek kehidupan yang penting, tapi kerap gagal menjadi pagar moral individual dalam ekosistem kehidupan sosial.

Untuk itu keberagamaan yang instan ala logika film hantu mesti ditinggalkan, untuk menumbuhkan sikap terbuka. Iman dan keberagamaan mesti berinteraksi dengan ilmu pengetahuan dan kehidupan sosial yang dinamis. Bukan sebagai hakim yang memonopoli kebenaran, tapi sebagai rekan diskusi yang setara.

Related Post

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.